Revitalisasi Properti di Kota Tua

Medio Februari lalu, setelah mendengar cerita promosi dari adik sepupu yang menang None Jakarta Barat 2013 lalu, saya berkunjung ke sebuah wilayah kecil khusus yang dikenal dengan sebutan Batavia Lama dengan luas 1,3 km2 yang dijuluki Permata Asia oleh pelayar Eropa.

Kawasan Kota Tua Jakarta terletak di lahan seluas 15 hektare yang dibangun pada abad 16 dengan arsitektur bergaya Eropa dan sentuhan aksen Tionghoa. Kejayaan wilayah ini sudah berlalu lebih dari 30 tahun, ditandai dengan kondisi properti dan keadaan lingkungan memprihatinkan yang tidak lagi masuk dalam radar investasi properti.

Kota Tua sudah masuk dalam kategori lokasi properti sunset. Padahal di masa lalu, tempat ini adalah kantong segitiga emas yang menjadi denyut nadi keramaian bisnis, dekat dengan Hayam Wuruk dan Glodok.

Pemerintah baru-baru ini menggaet pihak swasta untuk merevitalisasi daerah ini agar lebih bermanfaat dan mengangkat nilai propertinya kembali yang menurun karena struktur bangunan yang buruk dan kurang strategis dilihat dari perencanaan tata ruang kota, tidak tertata rapi sesuai dengan zonasi kegiatannya yang saling berbenturan kepentingan antara daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Investor dan pembeli properti tentunya akan memilih lokasi sunrise dan meninggalkan lokasi sunset. Properti menjadi menarik jika lokasinya termasuk lokasi sunrise, arus uang akan terus mengalir dan harganya akan terus naik secara stabil karena memiliki potensi yang cerah bak mentari minimal hingga 5 tahun ke depan.

Menjadi tugas pemerintah dan pengembang untuk mengupayakan suatu daerah sunset dapat kembali dihidupkan dengan keramaian. Untuk itulah kebijakan peremajaan Kota Tua tersebut untuk menarik minat investor properti kembali. Adapun daerah Taman Sari yang dekat dengan Kota Tua masih mengalami kenaikan NJOP yang relatif tinggi tahun ini sebesar 78% menjadi Rp 9,6 juta/m2.

Melanjutkan dekrit Ali Sadikin tahun 1972 untuk menjadikan Kota Tua sebagai situs warisan era kolonial Belanda dan melindungi sejarah arsitektur kota, Jokowi membentuk Yayasan Pelestarian Kota Tua, kolaborasi sektor privat, BUMN dan Pemprov DKI Jakarta untuk melakukan revitalisasi kawasan Kota Tua dengan tujuan melestarikan warisan budaya hingga mengembangkan area wisata dan tujuan investasi yang rencananya akan dilakukan bulan Maret 2014 ini.

9 perusahaan properti nasional membentuk konsorsium bernama PT Pembangunan Kota Tua Jakarta, terdapat 5 perusahaan publik di dalamnya, yaitu grup Ciputra, Intiland, Jababeka, Plaza Indonesia dan Podomoro. Masing-masing melakukan penyertaan saham sekitar 10% dengan modal disetor Rp 10 miliar. Alokasi dana revitalisasi kawasan seluas 150 hektare tersebut dalam 15 tahun ke depan mencapai triliunan rupiah.

Kawasan Ekonomi Khusus Kota Tua dibentuk seperti di Kepulauan Seribu untuk meningkatkan kualitas sebagai salah satu destinasi wisata di Jakarta. Tahun 2012 dialokasikan dana sebesar Rp 75 miliar untuk perbaikannya, ke depannya diusulkan besaran anggaran untuk pembangunannya sebesar 2,5% dari total jumlah APBD DKI.

Kota Tua saat ini dalam proses penataan ulang menjadi kawasan kelas menengah ke atas. Direstorasi, direkonstruksi dan dikonservasi mulai dari fisik hingga sosial sehingga menghadirkan daya tarik tersendiri bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara karena disuguhi oleh atraksi dan festival oleh komunitas seni lokal di antara beberapa bangunan tua dan museum di sekitarnya.

Kota Tua memang harus dilestarikan dan properti di daerah sekitarnya harus dibuat cukup stabil harganya dengan berbagai fasilitas dan pengembangannya. Jangan sampai matahari terlanjur terbenam, sehingga anak muda pun kehilangan indahnya menikmati sunset di Kota Tua.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *