Meninjau Properti Hijau

Pemilu sudah di depan mata, namun hampir tidak terdengar komitmen dan agenda politik dari para caleg maupun partai yang kuat mengenai isu lingkungan hidup. Pemanasan global dewasa ini telah memberikan efek negatif terhadap lingkungan disebabkan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca.

Keberadaan properti hijau semakin dibutuhkan mengingat pesatnya pertambahan populasi penduduk di tengah munculnya isu negatif lingkungan. Sektor properti menyumbang gas rumah kaca terbesar, mengonsumsi sepertiga energi dunia. Konsep properti hijau kini sudah menjadi kebutuhan krusial. Untuk mendukungnya, seluruh lapisan masyarakat didorong untuk mengimplementasikan program 4R (reduce, reuse, recycle dan recharge).

Pembangunan gedung-gedung pencakar langit sedang mengalami perkembangan yang luar biasa, terdapat sekitar 400 gedung tinggi di ibukota dan ada 2.500 gedung sejenis di tanah air, namun sayangnya masih sedikit yang mengaplikasikan konsep properti hijau.

Penataan ruang terbuka hijau di beberapa tempat perlu dilakukan dan wajib menjadi paru-paru kota yang memberi rasa nyaman sebuah kawasan. Kota dengan persepsi kenyamanan tertinggi adalah Yogyakarta, sedangkan Medan di paling buncit.

Konsep properti hijau berorientasi terhadap lingkungan dan penghematan sumber daya sepanjang siklus hidup properti tersebut, sejak perencanaan sudah dipersiapkan dengan efisien mulai dari pemilihan lokasi, desain, konstruksi, operasi, pemakaian, pemeliharaan, renovasi hingga peruntuhan.

Seperti halnya di luar negeri, pemerintah harus memberi insentif kepada pengembang yang berkomitmen pada desain berkelanjutan arsitektur hijau, berupa keringanan pajak, keringanan biaya pembayaran air dan listrik serta kemudahan pembelian produk dan teknologi yang ramah lingkungan.

Properti hijau didasarkan pada prinsip efisiensi energi, konservasi sumber daya dan kualitas udara, dengan kualifikasi teknis seperti menggunakan energi di bawah 250 kw per meter dan suhu udara mesin penyejuk sebesar 25 derajat celcius dengan kelembaban udara sekitar 60%.

Selain lokasi dan harga, faktor lingkungan mulai menjadi pertimbangan psikologis utama bagi para investor properti. Lingkungan yang baik akan memberi nilai tambah, baik kehidupan maupun nilai investasinya.

Biaya operasional properti hijau justru lebih murah dibandingkan yang konvensional, dapat menghemat biaya pengoperasian gedung sekitar 30% per tahunnya dan prospek investasinya rata-rata dapat balik modal dalam waktu 5 hingga 7 tahun.

Tolok ukur sebuah properti hijau yaitu tata guna lahan, efisiensi energi, konservasi air, bahan ramah lingkungan, kualitas udara dan manajemen limbah. Mencakup juga aspek ekonomi, utilitas, durabilitas dan kenyamanan.

Kebijakan terkait properti hijau diatur dalam UU No 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, UU No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, PerMeneg Lingkungan Hidup No 08 tahun 2010 dan PerGub Jakarta No 38 tahun 2012 tentang Bangunan Gedung Hijau, yang secara yuridis mengatur pemanfaatan, pengelolaan, pelestarian serta mendorong pengembang untuk membangun properti hijau.

Bangunan seperti kantor, mal dan apartemen dengan luas lebih dari 50 ribu m2, hotel dan rumah sakit dengan luas lebih dari 20 ribu m2, serta fasilitas pendidikan dengan luas lebih dari 10 ribu m2, wajib mengusung konsep properti hijau.

Konsep properti hijau mencakup dalam perencanaan, pembangunan, pengoperasian serta pemeliharaannya yang melindungi, menghemat, mengurangi penggunaan sumber daya alam, menjaga mutu dan memerhatikan kesehatan penghuninya.

Pengembang jangan hanya menjual proyek-proyek properti secara berlebihan dengan melabel ‘hijau’ produknya supaya laku di pasaran, tetapi bersama-sama merancang bangun kawasan alam properti yang benar-benar hijau dan berwawasan lingkungan.

Ayo berinovasi dan berkreasi secara efektif menghadirkan properti hijau dan menerapkan teknologi tepat guna yang berujung pada efisiensi biaya dengan tetap menjaga kualitas dan tampilan bangunan yang ramah lingkungan. Mari mewujudkannya.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *