Potensi & Peluang Pasar Properti 2016

Pasar properti di Indonesia akan bangkit pada 2016 setelah melewati titik terendah pada 2015 lalu, khususnya di segmen menengah. Yang terjadi di 2015 hanyalah sebuah siklus alamiah dalam bisnis properti. Tahun ini akan berangsur lebih cerah seiring membaiknya perekonomian global dan domestik, serta adanya pembenahan kebijakan nasional.

Salah satu pemicunya adalah masuknya investor asing yang akan merealisasikan investasi pada akhir semester awal 2016, di mana pada saat itu beberapa peraturan akan sudah terbit, khususnya terkait paket kebijakan ekonomi tentang investasi asing. Ada beberapa regulasi yang masih ditunggu kepastiannya seperti pajak properti, kepemilikan warga asing, dan perizinan properti, yang diperkirakan akan rampung pertengahan tahun ini. Setelah itu, maka para pendana luar itu acap memulai merealisasikan proyek investasinya.

Pemulihan properti akan terjadi pada semester dua tahun ini, gelagat perbaikan telah tampak di kuartal terakhir tahun lalu. Hal yang akan mengungkit titik tolak perekonomian tahun 2016 sehingga menjadi tempo yang tepat untuk berinvestasi adalah implementasi proyek infrastruktur secara besar-besaran di mana pemerintah menjatahkan APBN lebih dari Rp 100 triliun untuk ekspansi jalan tol, pengelolaan air bersih, bendungan, sanitasi, drainase, irigasi, jembatan, hingga pembangunan kilang minyak.

Fokus pemerintah adalah mencakup industri strategis yang mampu mendukung ekonomi nasional, seperti adanya Program Sejuta Rumah telah menjadi lokomotif penggerak hajat hunian menjadi lebih tinggi sepanjang 2015. Properti komersial di kawasan dengan basis ekonomi industri akan mekar karena pasarnya masih besar, apartemen medium untuk ekspatriat akan semakin marak di kisaran Rp 300-800 juta dan tempat tinggal tapak di kisaran Rp 500 juta – 1 miliar masih berpotensi bersinar.

Pembalikan positif investasi properti tersebut akan terealisasi jika dibarengi beberapa anasir penting, di antaranya adalah penurunan suku bunga dan stabilitas mata uang, dan meningkatnya daya beli publik, serta kepastian arah kebijakan pemerintah.

Selain itu, ada faktor lain yang melecut industri properti tahun ini yaitu pemerintah akan lebih fokus di pembangunan infrastruktur, perluasan pasar properti di luar Pulau Jawa, khususnya Indonesia bagian timur, pemerataan pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah, rencana transportasi dan lalu lintas akan menjadi kausa pergerakan positif pasar properti nasional, serta adanya arus investasi asing yang terus masuk. Adapun hingga kuartal ketiga tahun lalu realisasi investasi di sektor properti yang mencakup hotel, rumah, riil estat, kawasan industri, dan komersial tercatat sebesar Rp 3,9 triliun

Primadona pertumbuhan properti 2016 akan tetap di segmen perumahan menengah pada rentang harga Rp 600 juta sampai Rp 1,2 miliar dengan luas lahan 60-115 m² di lokasi pengembangan. Griya dengan harga tersebut merupakan hunian perdana dan masih jamak masyarakat yang belum memiliki rumah didukung dengan daya beli yang membaik. Daerah yang sangat diminati adalah yang pembangunan infrastrukturnya terintegrasi strategis yang dekat dengan fasilitas-fasilitas penunjang kehidupan di sekitar kawasan bisnis, seperti wilayah Jakarta Timur, Bekasi, Depok, Serpong, dan Karawang.

Di tahun 2016, pangsa pasar properti akan lebih besar di kisaran harga di bawah Rp 1 miliar, hal tersebut mengingat populasi di negeri ini adalah kebanyakan kelas menengah yang memiliki daya beli stabil. Segmen semenjana di Indonesia sebesar 56% dari total populasi, 31% diisi oleh usia produktif antara 24-40 tahun sebagai kaliber yang paling berdaya berinvestasi properti dengan rentang harga mulai Rp 300 juta hingga Rp 1,5 miliar. Investasi di sektor properti diprediksi bakal mengalami peningkatan sekira 12,5% pada 2016.

Selamat tahun baru, selamat berburu properti!

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *