Momen dan Momentum Properti 2016

Tahun 2016 ini digadang-gadang bakal menjadi momentum kebangkitan bisnis properti. Walaupun pergerakan mata uang Garuda yang masih belum bertenaga dan rendahnya harga komoditas yang memicu kewaspadaan pelaku pasar, permintaan properti perkantoran dan residensial masih meningkat sementara sektor ritel tetap ajek. Optimisme ini berpangkal pada beberapa aspek seperti adanya pengkajian ulang terhadap aturan anyar yang dianggap sebagai resistensi terhadap sektor properti, misalnya mengenai regulasi loan to value, pajak barang mewah, serta paket kebijakan ekonomi pemerintah.

Tahun lalu pembelian properti melambat lantaran tingginya inflasi dan suku bunga yang membuat daya belanja menurun yang mendorong konsumen menjadi menunda pembelian, alhasil penjualan properti terkoreksi hingga 30%. Tahun ini dianggap momen yang tepat untuk mulai membeli properti karena harga akan segera merangkak naik didorong beberapa katalis seperti penurunan harga minyak dunia, inflasi yang melandai, tingkat bunga yang rendah, dan program percepatan pembangunan infrastruktur yang menjadi sinyal kebangkitan hilirisasi dan industrialisasi di sektor properti.

Momentum bagi masyarakat yang hendak membeli rumah, terutama pembeli rumah pertama, telah tiba. Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan menjadi 7,25%, ruang moneter semakin terbuka dan ekonomi domestik akan cenderung membaik, dan diharapkan perbankan kunjung segera menurunkan suku bunganya lebih rendah lagi untuk dapat memberikan stimulus yang nyata bagi pasar perumahan nasional agar industri properti pun dapat tumbuh lebih baik. Penurunan bunga acuan harus dapat dimanfaatkan oleh para pelaku di sektor properti untuk mengakselerasi pembangunan dan penjualan perumahan, karena akan meningkatkan kapasitas pangsa pasar empat hingga lima kali ganda.

Potensi pariwisata yang semakin dipromosikan juga menjadi tanda pemulihan sektor properti di Tanah Air. Indonesia memiliki daya tarik yang sangat kuat untuk menjadi lokasi yang seksi bagi investasi properti dunia yang juga telah sedia menyambut Masyarakat Ekonomi Asia Tenggara. Menjadi saat yang tepat juga bagi pemerintah untuk membuka kran hak properti asing karena valuasi properti Indonesia yang masih lebih murah dibandingkan dengan tetangga.

Pivot pengembangan properti baru juga sudah mulai menggeliat di tahun ini, seperti di kawasan timur Jakarta yang dilintasi pembangunan infrastruktur jalan tol dan transportasi kereta. Pembangunan kereta Cibubur-Cawang yang tengah dikerjakan dan akan rampung di 2017 dan juga kereta api cepat Jakarta-Bandung yang akan selesai di tahun 2019. Penjualan hunian di kota satelit, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi pada kuartal akhir 2015 lalu mengalami pertumbuhan yang menarik, skala penjualan melesat sebesar 17%. Adapun Bekasi terlihat sangat berpotensi dengan tajuk penjualan yang naik mencapai 72%. Segmen menengah yang paling menguat dengan komposisi penjualan terbesar di kisaran harga Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar yang nyaris 50%.

Momen dan momentum sangat esensial untuk diperhatikan oleh investor properti. Pembangunan industri properti harus segera dimanfaatkan tatkala tren bunga turun, adanya kebijakan paket ekonomi disertai deregulasi serta pemanfaatan investasi asing, dan rencana program pengembangan infrastruktur. Siklus properti di tahun 2016 ini sudah mulai akan bangkit, salah satu indikatornya adalah adanya dana pemerintah, khususnya di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang mencapai Rp 100 triliun yang siap dipakai di beberapa proyek infrastruktur besar.

Berdasarkan hal tersebut di atas dan juga kondisi riil sekarang, penj‎ualan properti nasional diproyeksikan akan tumbuh di sekitar bilangan 11% di 2016, selaras dengan kondisi ekonomi nasional yang kian apik bila dibanding raihan tahun lalu. Optimis ‎industri properti akan positif dan progresif di tahun ini! Selamat berinvestasi.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *