Prospek Saham Emiten Properti 2016

Setelah menurunkan bunga acuan di Januari, Bank Indonesia di Februari lalu kembali memotong sebesar 25 basis poin bunga acuan menjadi 7%. Pemangkasan ini diproyeksi akan berkesinambungan di 2016 sehingga mendorong perbankan melingsirkan bunga kredit properti. Dampak konstruktif dari penurunan tersebut baru mulai akan terasa di Juni nanti. Hal tersebut akan menjadi katalis positif terhadap performa emiten properti hingga 2017.

10 paket kebijakan ekonomi yang telah dirilis pemerintah terutama revisi uraian negatif investasi dan semakin liberalnya beleid bagi investor asing di Indonesia bakal berdampak baik juga bagi prestasi sejumlah korporasi properti besar dalam jangka menengah. Pertumbuhan pendapatan prapenjualan emiten properti diprediksi sekitar 9% tahun ini, lebih cemerlang dibandingkan tahun lalu yang minus 7%.

Tahun 2016 ini diyakini sebagai momen tinggal landas bagi sektor properti dan akan kembali menuju puncaknya pada 2018 karena didukung sejumlah tesis positif. Pertama, kebijakan relaksasi pemerintah untuk kredit properti melalui loan to value yang berlaku efektif pertengahan 2016 lalu yang akan terasa di kuartal awal tahun ini dan peraturan yang mengizinkan ekspatriat untuk memiliki hunian sendiri di Indonesia. Perundang-undangan yang ditandatangani akhir tahun lalu ini disambut baik oleh pendana asing yang memerbolehkan warga asing yang mempunyai izin tinggal untuk memiliki rumah dengan sertifikat Hak Guna Bangunan.

Afeksi afirmatif kedua semakin baiknya kondisi sektor properti dewasa ini adalah pertumbuhan kredit properti hingga 15% lebih tinggi dibanding tahun lalu, disokong oleh rendahnya inflasi dan suku bunga yang terus melandai. Ketiga, data realisasi investasi yang masuk di akhir tahun lalu menjadi bukti kuat adanya 246 proyek asing dengan nilai investasi sebesar US$ 952 triliun dan 108 proyek domestik senilai US$ 622 triliun yang siap menggenjot sektor properti dan turunan subsektor terkait. Selain itu, dengan daya beli masyarakat yang mulai meningkat ditandai pertumbuhan ekspres kelas menengah di Indonesia yang diiringi oleh kenaikan Produk Domestik Bruto per kapita sebesar Rp 59 juta pada 2015, ditambah santernya program pembangunan infrastruktur juga menjadi pendorong geliat pasar properti, perekonomian pun diekspektasikan terdongkrak menjadi sekira 5,5%.

Selain itu, ada kabar baik dari Undang-Undang (UU) Tabungan Perumahan Rakyat yang segera akan rampung turut menjadi alasan kuat bagi industri properti menuju arah pemulihan tahun ini. Lalu, UU Pengampunan Pajak juga ditunggu berjalan efektif oleh investor properti, sentimennya akan berdampak positif pada pergerakan saham-saham properti. Akan halnya, para pengembang properti sedang mengantisipasi kenaikan permintaan setelah implementasi dua UU tersebut dengan mempersiapkan properti segmen menengah atas dan beberapa produk sekuritas seperti Dana Investasi Lahan Yasan. Adapun penjualan rumah tapak masih akan lebih laris dibandingkan dengan rumah vertikal kisaran harga Rp 1-2 miliar.

Indeks saham sektor properti telah menguat sebesar 6,7% dari titik terendah hingga titik tertingginya di permulaan tahun 2016 ini. Total target prapenjualan dari 10 emiten properti tahun ini sebesar Rp 41,6 triliun atau naik 21% dibanding 2015, dengan target paling tinggi dipancang oleh Alam Sutera, Sentul City, dan Modernland Realty. Sedangkan total anggaran belanja modal dari 8 emiten mencapai Rp 11,7 triliun atau meningkat 8%, adapun hanya PP Property, Summarecon Agung, dan Sentul City yang menaikkan belanja modalnya tahun ini.

Saham emiten berkapitalisasi besar dan yang memiliki pendapatan rutin dari pusat perbelanjaan seperti Lippo Karawaci dan Summarecon Agung juga menarik untuk diperhatikan. Saham emiten properti yang memiliki kondisi keuangan yang baik dan yang direkomendasikan saat ini adalah Ciputra Development, Bumi Serpong Damai, Pakuwon Jati, dan Summarecon Agung. Selamat berinvestasi saham properti!

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *