Cita dan Cipta Kota Jakarta

Titiek Puspa pernah menulis “Jakarta kotaku indah dan megah, di situlah aku dilahirkan. Sekarang rumahnya berjubel, padat penghuninya. Kami semua hidup rukun dan damai.”

22 Juni kota Jakarta merayakan ulang tahunnya yang ke-487, lebih tua dari usia Republik Indonesia, semenjak Fatahilah menamainya Jayakarta yang berarti “kota kemenangan”. Lalu Jepang tahun 1942 menggantinya menjadi Djakarta. Jakarta yang dijuluki The Big Durian merupakan kota metropolitan terbesar di Asia Tenggara.

Pekan Raya Jakarta di Monas dan Jakarta Fair di Kemayoran, serta Festival Jakarta Great Sale di banyak mal diadakan untuk menyambut ultah Jakarta. Terdapat 173 mal di ibu kota, menempatkan Jakarta sebagai kota dengan jumlah mal terbanyak di dunia, sayang kontras dengan fakta bahwa hanya ada 59 hutan kota dan ruang terbuka hijau yang tersedia.

Dengan penduduk 10 juta jiwa dengan tambahan 18 juta jiwa dari kota satelit Bodetabek, Jakarta menjadi kota dengan jumlah penduduk terpadat di Indonesia, mendekati 14 ribu/km2. Pertumbuhan penduduk pernah coba ditekan oleh Ali Sadikin awal 1970-an dengan menyatakan Jakarta sebagai kota tertutup bagi pendatang. Jakarta dilihat sebagai kota metropolitan, sejajar dengan Bangkok, Singapura, dan Manila.

Ada sekitar 4 juta warga komuter yang datang dari kota-kota sekeliling Jakarta, untuk itulah harus ada sinergi pembangunan kawasan megapolitan Jakarta dengan 9 kabupaten/kota di sekitarnya. Jakarta merupakan kota dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat. Pendapatan per kapita masyarakat Jakarta sekitar Rp 111 juta/tahun. Tak kurang dari 50-75% dari uang yang berputar di Indonesia terkonsentrasi di Jakarta.

Pada masa pemerintahan Soekarno, kawasan Thamrin dan Sudirman dikembangkan sebagai pusat bisnis, menggantikan Senen, Salemba dan Jatinegara. Beberapa sentra perdagangan di Jakarta yang menjadi tempat perputaran uang cukup besar adalah kawasan Tanah Abang dan Glodok. Adapun pusat permukiman besar pertama yang dikembangkan adalah Pondok Indah di akhir dekade 1970-an.

Sektor properti menjadi salah satu sektor utama ekonomi kota ini. Adapun Singapura sudah menata permukimannya menjadi hunian vertikal sejak tahun 1960-an, Jakarta jauh tertinggal. Saat ini pertumbuhan harga sewa untuk service apartment bergerak di kisaran 10% setiap tahunnya dan lebih dari 4 ribu unit kondominium kelas menengah diluncurkan di kuartal pertama tahun 2014.

Pertumbuhan properti Jakarta juga ditopang oleh penjualan dan penyewaan ruang kantor. Dengan pertumbuhan 27% di kuartal pertama 2014, pertumbuhan harga sewa kantor di Jakarta menempati posisi pertama di Asia-Pasifik. Proyek perkantoran yang akan masuk di Jakarta dan sekitarnya di tahun ini mencapai 520 ribu m2 lebih, dengan harga jual sekitar Rp 20 juta/m2.

Mohammad Hatta pernah berujar, “Kota Jakarta adalah peniru yang bodoh, imitasi kota Barat yang buruk.” Pada masa kolonial sempat dijuluki Venesia dari Timur, namun terjadi banjir besar tahun 1830, sehingga ibu kota Hindia Belanda dipindahkan dari kota lama Batavia ke Weltevreden. Tahun 1930-an juga sudah terkenal adanya aksi kriminal kelompok bandit Koempoelan 4 Cent di wilayah Senen.

Selain banjir dan kriminalitas, Jakarta masih harus bergelut dengan akibat dari kepadatan penduduk, seperti kemacetan, transportasi, perumahan, dan ruang terbuka hijau. Ada akronim yang mengesankan negatifnya Jakarta, yaitu Jambret Ada, Koruptor Ada, Rampok Tentu Ada. Iwan Fals pun bersenandung ”Berkacalah Jakarta”.

Ada sebuah gerakan positif komunitas sosial bernama “Ganti Jakarta”, dengan ratusan relawan yang menginspirasi penghuni Jakarta memperjuangkan perubahan, menyadarkan masyarakat betapa besarnya potensi sebuah kota yang mewakili Indonesia di dunia internasional. Mari bergabung!

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *