Bank Perumahan Rakyat Mandiri

Sehari sebelum Natal di tahun 2013, harga saham PT Bank Tabungan Negara, Tbk. (BTN) masih seharga Rp 820, terus beranjak naik sampai tanggal 16 April harganya sudah mencapai Rp 1.525. Dalam 3,5 bulan saham plat merah ini naik sebesar 85%, atau hampir 40x lipat dari bunga bank.

Di balik kenaikan fantastis ini ada rencana aksi korporasi pemerintah yang berencana menjual kepemilikan 60% sekitar Rp 8 triliun di BTN dengan skema akuisisi oleh PT Bank Mandiri, Tbk. (Mandiri).

Isu akuisisi BTN oleh salah satu bank BUMN terus berulang hampir 1 dekade terakhir, rencana tersebut pernah coba dilakukan oleh PT Bank Negara Indonesia, Tbk. di tahun 2006. Adapun rencana penjualan BTN saat ini tidak memiliki urgensi, apalagi di tahun pemilu akan menimbulkan kecurigaan, sebab BTN memiliki kinerja yang tidak buruk. Ini aksi korporasi yang baik jika hanya alasan bisnis semata dan tidak ada muatan politis di dalamnya.

BTN termasuk dalam 10 bank terbesar di Indonesia berdasarkan jumlah aset dan kredit. Di tahun 2013, asetnya mencapai Rp 131 triliun, kredit Rp 100 triliun, laba bersih Rp 1,6 triliun, dan kredit bermasalah 3%. Sementara itu, dana pihak ketiga sebesar Rp 96 triliun dengan porsi realisasi kredit pemilikan rumah (KPR) sebesar 97%.

Salah satu tujuan negara dalam konstitusi UUD 45 adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat, antara lain adalah kepemilikan rumah melalui pembiayaan rumah murah bersubsidi. Peran BTN harus dimaksimalkan dengan fokus bisnis pendanaan perumahan rakyat dan pengembangan pemukiman.

BTN telah konsisten menjalankan fungsi strategisnya sesuai yang telah diamanatkan oleh negara untuk menyukseskan program perumahan rakyat bawah. Sampai saat ini lebih dari 3,5 juta unit KPR yang telah diberikan oleh BTN. Presiden SBY pun dapat memiliki rumah pertamanya melalui KPR BTN.

Paling baik BTN tetap berdiri sendiri sebagai bank BUMN, karena akan lebih independen dan fokus sebagai bank perumahan rakyat, terutama dalam mendukung program perumahan nasional melalui skema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Peran BTN jelas dan sangat diperlukan karena berdampak luas kepada perekonomian nasional serta daerah. Dalam bisnis, yang terpenting bukan hanya besarnya modal, tetapi spesifik dan fokus di pasar yang sudah ada, apalagi BTN menguasai pasarnya sejak lama sebagai pemimpin pasar KPR.

Bila BTN tidak fokus, maka akan berdampak pada porsi pengadaan rumah masyarakat berpendapatan rendah yang lebih tertunda, yang saat ini saja terdapat defisit perumahan yang besar sekitar 15 juta unit dengan nilai mencapai Rp 2.600 triliun, nilai tersebut adalah potensi yang luar biasa bagi BTN ke depannya.

Secara finansial, model bisnis BTN lebih dekat dengan PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk. yang memiliki posisi bisnis yang selaras saling melengkapi dengan sinergi bisnis kredit mikro dan KPR bersubsidi, yang keduanya memiliki target pasar yang serupa, yakni masyarakat kelas menengah-bawah. Bisnis perumahan rakyat dan bersubsidi BTN akan tumpang tindih dengan pasar Mandiri di menengah-bawah. BTN menguasai pasar perumahan menengah bawah, sedangkan Mandiri lebih ke komersial.

Teori keunggulan absolut Adam Smith mengatakan bahwa manfaat dan produktivitas diperoleh apabila fokus melakukan spesialisasi pada produk yang mempunyai efisiensi produksi lebih baik dari yang lain. Spesialisasi perbankan, khususnya untuk perumahan masih diperlukan, apalagi pangsa pasar di sektor perumahan yang merupakan spesialisasi dari BTN masih sangat besar. BTN sebagai bank perumahan rakyat sebaiknya berdiri sendiri mandiri, bukan bergabung dengan Mandiri, setidaknya tidak saat ini.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *