Tren Properti Indonesia: Lantunan Buble & Catatan Bubble

“… and even in Paris and Rome, but I wanna go home. Baby I’m done, let me go home.…”

Penggalan lagu Michael Bublé tersebut mengingatkan pada rumah kita, Indonesia dan ibukota Jakarta, yang dalam beberapa tahun terakhir menikmati bulan madu properti, sebagai magnet utama dunia mengalahkan kota-kota besar dunia lainnya, karena diuntungkan dengan melemahnya perekonomian negeri tirai bambu dan negeri anak benua.

Friedrich Nietzsche pernah berkata “An artist has no home in Europe except in Paris” yang dapat mempunyai arti mahalnya harga properti di Paris dan harganya akan terus naik. Namun nyatanya harga di sana saat ini malah mengalami penurunan. Sepanjang Maret 2012 hingga Maret 2013, kenaikan harga rumah mewah di Jakarta mencapai 38%, di posisi kedua ada Bangkok sebesar 26%. Secara kontras, Paris malah menempati penurunan terbesar kedua, setelah Tokyo, dengan minus 13,6%.

Indonesia sedang dalam performa terbaik dan berpotensi memiliki masa depan yang cerah dengan daya tarik investasi sebagai negara berkembang yang didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang tertinggi di Asia Tenggara di tengah iklim politik yang stabil, disokong populasi dengan penduduk usia produktif yang besar, peningkatan pendapatan masyarakat khususnya kelas menengah dengan permintaan domestik yang tinggi, serta derasnya aliran investasi asing.

Jakarta masuk urutan pertama di Asia Pasifik sebagai tujuan investasi utama properti. Bukan hanya di sektor riil, saham-saham properti pun juga mengalami kenaikan yang paling tinggi di antara sektor lainnya, sebesar 56% sejak awal tahun ini, didukung oleh performa pertumbuhan laba tujuh perusahaan properti terbesar di Indonesia yang diproyeksikan mendekati 40% pada tahun 2013, didongkrak oleh tingginya pertumbuhan harga jual properti.

Tren kemajuan sektor properti menyentuh 30% setiap tahunnya dalam 3 tahun terakhir. Hal inilah yang menciptakan agitasi properti sedang meniup gelembung seiring kapitalisasi properti yang mencapai Rp135 triliun hingga bulan Mei 2013 ini. Per definisi, bubble adalah penggelembungan ekonomi dengan ciri yang spesifik seperti kenaikan yang signifikan dalam waktu singkat. Namun potensi gelembung properti di Indonesia saat ini belum sampai taraf yang perlu dikhawatirkan.

Kerisauan terjadinya gelembung properti masih dapat diredam dengan melihat indikator kredit yang disalurkan perbankan ke sektor properti yang hanya 14%, sedangkan rata-rata kredit perbankan sebesar 21%. Rasio kredit properti masih sebesar dua pertiga dibandingkan saat krisis tahun 1998, dan yang lebih ekstrim lagi belum sampai setengahnya dari total kredit properti tahun 1996 yang saat itu mencapai 30%. Saat ini non-performing loan kredit properti juga masih sekitar 2,2% yang masuk dalam kategori baik, dan kredit perumahan Indonesia masih relatif kecil, hanya 3% terhadap produk domestik bruto.

Indikator bubble properti yang sesungguhnya adalah bukan seberapa tinggi naiknya harga properti, melainkan seberapa sulit properti tersebut dijual kembali. Ke depannya, sektor properti masih sangat menjanjikan, dengan harga yang masih relatif rendah dibandingkan negara-negara tetangga, hal ini otomatis memberi potensi ruang kenaikan sektor properti yang masih terbuka lebar ke depannya. Tak salah lagi kalau Indonesia dan sektor properti pada tahun 2013 ini mendapat julukan investment darling.

Meski masih jauh dari risiko meletusnya balon properti, antisipasi pemerintah tentu perlu dilakukan dengan kebijakan pemerintah yang terus diperbaiki. Sektor properti yang sedang berkembang pesat ini perlu dikapitalisasi sehingga memiliki efek ganda terhadap perekonomian Indonesia dan menyentuh akar rumput di sektor riil, hulu hingga hilir.

House is just a building, but home is a feeling. Family makes a house a home.”

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *