Properti Pasca 100 Hari Pemerintahan Baru

Harga properti mencapai puncaknya pada medio 2013, setelah itu pertumbuhannya melambat dan diperkirakan sampai beberapa saat ke depan. Meski melandai, sektor properti akan tetap prospektif karena beberapa indikator positif seperti tingginya populasi penduduk dan bonus demografi yang produktif dengan potensi pendapatan per kapita yang meningkat seiring pertumbuhan ekonomi yang atraktif. Bisnis properti Indonesia dianggap sebagai salah satu industri yang masih menarik dilirik sebagai tujuan investasi 2015.

Tertahannya harga properti belakangan ini lebih dikarenakan kondisi permintaan yang tergerus akibat naiknya bunga kredit pemilikan rumah (KPR) dan kenaikan harga properti yang relatif sangat tinggi dalam 3 tahun terakhir. Indonesia masih akan terus berkembang dengan menciptakan pasarnya sendiri yang baru, yang sifatnya lebih karena dorongan penawaran, bukan oleh dorongan permintaan semata.

Optimistis menyambut 2015, karena infrastruktur Indonesia, khususnya Jakarta (jalan tol, jalur MRT, serta rute baru bus intermoda) yang semakin baik, perkembangan properti pun akan semakin efektif. Target pertumbuhan properti 2015 akan berkisar di angka 17,5%, tidak jauh berbeda dengan tahun 2014. Penggabungan Kementerian PU dengan Perumahan Rakyat juga diharapkan meningkatkan fasilitas infrastruktur untuk perumahan, terutama area pembukaan wilayah baru dalam pengembangan hunian. Industri properti tetap menjadi primadona ke depan apalagi dengan adanya program pembangunan tempat tinggal bersubsidi.

Tahun 2015, pemerintah akan lebih fokus di pembangunan infrastruktur, selain potensi ke depan yang baik bagi perkembangan bisnis properti, ditambah lagi masuknya investor asing saat penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 yang melakukan ekspansi usaha membangun kawasan bisnis di Indonesia membuat potensi pasar properti akan semakin meluas. Arus dana asing yang akan masuk ke Indonesia akan dapat memberikan pertumbuhan ekonomi dan bisnis yang positif.

Tantangan pelaksanaan MEA 2015 adalah masuknya pengembang asing yang akan menjadi pesaing bagi pengembang lokal karena dibukanya gerbang investasi global. Meski dihadapkan pada tantangan pinjaman yang ketat, pengusaha properti dapat bernapas lega karena adanya reformasi perizinan satu pintu yang lebih memberikan kemudahan berbisnis. Tahun 2015 memiliki banyak peluang bagi sektor properti, terutama Indonesia sebagai tujuan investasi di Asia Pasifik. Harga properti Indonesia masih lebih murah dibandingkan negara tetangga, apalagi saat ini dengan nilai tukar rupiah yang lebih rendah.

Industri properti masih akan memegang peranan penting dalam pertumbuhan perekonomian Indonesia dan menjadi salah satu kebutuhan sentral, oleh karenanya properti masih tetap akan menjadi unggulan karena beberapa faktor seperti masih tersedianya banyak lahan, pengembangan kawasan ekonomi yang pesat dan ketersediaan infrastruktur yang lebih baik maupun transportasi yang terintegrasi.

Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para pelaku properti yaitu pengembang harus menyiapkan arus kas proyek yang lebih solid karena adanya proyeksi penurunan penjualan di tengah tingkat bunga konstruksi yang tinggi yang tentunya memberikan tekanan di samping naiknya bahan material bangunan, selain itu yang paling krusial adalah daya beli konsumen properti, terkait juga dengan suku bunga KPR yang berada di kisaran 13,5% yang dianggap tinggi ini harus disikapi dengan strategi pembayaran yang tepat.

Tendensi utama di 2015 yang harus diperhatikan di pasar negara berkembang saat ini adalah adanya ruang kemajuan ekonomi Indonesia yang masih tinggi dan pertumbuhan kelas menengah yang diekspektasikan mencapai lebih dari 140 juta jiwa pada 2020 yang mendorong daya beli, kenaikan minat pemodal asing terkait perubahan hukum kepemilikan asing langsung, serta optimisme dari pemerintah, pelaku pasar, pebisnis dan juga investor properti.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *