Milenial

Jakarta, 2008

Pagi itu aktivitas warga Jakarta mulai terlihat sibuk, lalu lintas mulai dipadati oleh kendaraan baik umum dan pribadi, mobil atau motor tampak lalu lalang di jalanan ibu kota. Pagi itu pula tampak kesibukan di sebuah rumah yang dihuni satu keluarga. Terlihat seorang lelaki yang tak lain ayah Milenial (Mila) sedang duduk di sofa sambil menonton berita di salah satu siaran TV dengan topik aksi demonstrasi, sedang di ruang dapur tampak ibu Mila sedang sibuk dengan seorang asisten rumah tangga untuk menyiapkan hidangan sarapan. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki yang turun dari tangga yang terbuat dari kayu.

Mila: “Selamat pagi semua…” Ucapnya sambil meletakkan tas sekolahnya di sofa dan langsung mencium pipi sang ayah serta ibu yang masih berada di dapur itu.

Ayah: “Ini kamu lihat di TV, dari kemarin yang diangkat demo.. demo.. demo… apa sih maunya generasi muda zaman sekarang, toh belum tentu juga aspirasinya bisa diterima.” Ucap ayah Mila dengan nada yang menggerutu.

Mila: “Mereka kan cuma mengeluarkan aspirasinya, menyampaikan pendapatnya. Mungkin dengan cara begitu yang dapat dilakukan, toh … tidak salah juga kan?“ ucap kembali Mila pada ayahnya.

Ayah: “Iya… tapi tidak seperti itu juga. ‘kan ada acara lain seperti mengadakan pertemuan dengan fraksi-fraksi terkait atau mengirimkan surat formal. “ Ucap kembali pada Mila dengan nada sedikit tinggi.

Ibu: “Sudah-sudah… masih pagi sudah berdebat, mari sarapan dulu.” Ucap ibu pada Mila dan ayahnya sambil menyela pembicaraan mereka yang semakin meninggi itu.

Mila: “Tau nih Papa.., masih pagi juga udah ngajak ribut.” Ucap Mila dengan wajah yang cemberut sambil duduk di meja makan untuk sarapan.

 

Sedang mereka menikmati sarapan, Pak Wandi yang tak lain sopir di keluarga itu tengah sibuk mengelap mobil, tiba-tiba ada dua orang yang berdiri di depan pagar dengan berpakaian kemeja batik lengan pendek.

Orang1: “Selamat pagi.. Pak..pak… “ Ucap orang1 dengan nada agak keras dengan maksud memanggil Pak Wandi.

Pak Wandi: “Selamat pagi… Ada apa ya pak, ada yang bisa saya bantu?“ Ucap Pak Wandi sambil menawar bantuan kepada kedua orang tersebut.

Orang1: “Apa bapak ada di rumah, kalau ada bilang kami mau bertemu dengan beliau. “

Pak Wandi: “Mari masuk… Tunggu sebentar, saya panggilkan bapak dulu “ Pak Wandi mempersilahkan kedua orang itu dan mengantarnya sampai ke ruang tamu. “Permisi pak, di ruang tamu ada dua orang yang ingin bertemu bapak. Kata mereka ini penting sekali.“ Ucap Pak Wandi dengan nada pelan.

Ayah: “Suruh tunggu sebentar, saya selesaikan sarapan saya dulu.“ Ucap ayah Mila sambil melanjutkan sarapannya.

Pak Wandi: “Baik, Pak. “ Jawab Pak Wandi dan langsung kembali kepada kedua tamu itu. “Pak.., harap ditunggu sebentar. Bapak sedang sarapan. “ Ucap Pak Wandi pada kedua tamu itu dan langsung meninggalkan mereka.

 

Sambil menunggu, kedua tamu itu menikmati teh dan makanan kecil yang telah disajikan oleh Lastri. Mereka tampak tergesa-gesa seakan tidak merasa aman akan adanya mereka bertamu di rumah itu, dan ingin segera beranjak dari situ. Tak lama kemudian datang ayah Mila yang mereka tunggu-tunggu itu.

Ayah: “Oh… Selamat pagi. Ada apa gerangan datang pagi-pagi begini, apa ada yang penting untuk dibicarakan?” Ucap ayah Mila sambil menyapa dan menanyakan kedatangan kedua orang itu.

Orang1: “Selamat pagi, Pak… “ Balas orang1 sambil berjabat tangan. “Begini pak, maksud kedatangan kami untuk memberikan surat ini beserta titipan dari bos kami.“ Ucap pria itu sambil berdiri dan memberikan amplop surat serta sebuah tas jinjing hitam yang besar.

Ayah: “Apa ini…?“ Tanya ayah Mila sambil memegang tas itu dan menatap kepada dua orang itu.

Orang2: “Maaf, Pak, kami tidak bisa menjelaskannya. Soalnya bos kami hanya menyuruh kami untuk mengantarkan dan kami tidak bisa berlama-lama di sini, kami permisi dulu pak.“ Ucap orang itu dan langsung menuju pintu untuk segera keluar dari rumah itu.

Ayah: “Eh eh eh eh eh…. Tunggu dulu, apa maksudnya ini…?“ Tanya ayah Mila sambil mencoba mengejar kedua orang itu. “Aaahhh… apa ini ? “ Ucap ayah Mila dengan nada gumam sambil melihat amplop surat yang dipegangnya dan melangkah perlahan kembali masuk ke dalam rumah.

 

Mila pun langsung menuju ke mobil dan langsung duduk di depan sebelah sopir, karena penasaran akan tamu yang datang tadi, Mila berinisiatif untuk bertanya pada Pak Wandi. Namun ia merasa ragu akan niatnya itu, sedikit-sedikit ia menoleh ke Pak Wandi seakan gelisah menyerangnya bertubi-tubi.

Pak Wandi: “Ada apa Non? kok gelisah-gelisah gitu kelihatannya.“ Tanya Pak Wandi pada Mila seakan mau tahu akan kegelisahan itu.

Mila: “Tadi itu siapa pak, kok tiba-tiba langsung pergi begitu saja?“ Tanya Mila dengan rasa penasarannya itu.

Pak Wandi: “Wah.. kalo mereka itu bapak tidak kenal Non, soalnya bapak juga baru ngeliat dua orang itu. Kalaupun karyawan kantor tuan, bapak sudah pada kenal. “ Jawabnya kembali dengan nada pasti. “Memangnya kenapa Non, kayaknya ada yang dicurigai gitu…?“ Tanya kembali Pak Wandi pada Mila.

Mila: “Ah… tidak pak, cuma mau tau aja.“ Balasnya pada Pak Wandi dan mengakhiri pembicaraan itu.

 

Sementara itu di ruang makan tampak ayah Mila tengah memakai jas dan ibu Mila masih duduk di meja makan.

Ayah: “Ayah jalan dulu bu… Oh ya di ruang tamu ada tas hitam dan amplop, tolong pindahin ke ruang kerja ayah ya…. “ Ucapnya sambil mencium pipi sang istri dan langsung bergegas berangkat kerja.

Ibu: “Ok… semangat…..“ Balasnya dengan senyuman kecil.

 

Di tengah perjalanan Mila dan Ayahnya saling diam, tak ada perbincangan kecil di antara mereka. Sedang Pak Wandi hanya bisa menatap mereka, sedikit-sedikit Pak Wandi menjeling ke arah Mila dan kepada tuannya melalui kaca spion dalam mobil. Tak lama kemudian Pak Wandi menyetel radio dengan tujuan menetralkan suasana yang tegang di tengah per jalanan, selang beberapa menit adanya siaran berita dari salah satu stasiun radio yang berisi tentang gelombang demonstran yang akan terjadi pada siang hari itu dan adanya info tentang perubahan jalur yang akan dilakukan oleh kepolisian lalu lintas beserta jajaran yang terkait. Tak lama kemudian tibalah mereka di sekolah Mila.

Ayah: “Mil… nanti siang kamu langsung pulang yah…” Ucap ayah Mila sebelum berpisah dari tempat itu.

Mila: “Ya ayah… Bye.. Bye… “ Jawab Miladengan nada yang datar dan langsung keluar dari mobil itu.

 

Waktu terus berjalan hari makin siang sementara itu di kantor ayah Mila tampak para karyawan sedang sibuk beraktivitas, tapi tidak di dalam ruangan ayah Mila yang terasa suasana tegang dengan adanya siaran berita di salah satu stasiun TV selain topik demonstrasi yang sedang trending, ada pula berita dengan tertangkapnya beberapa pejabat pemerintahan yang terkait kasus korupsi. Di tengah itu ayah Mila tampak duduk dengan tangan yang terus meremas-remas kepalanya seakan memikirkan sesuatu yang begitu berat dan sedikit-sedikit berjalan ke sana kemari seakan merasa kegundahan dan cemas yang mendalam. Tiba-tiba terdengar suara dering handphone di meja, namun tak juga diambilnya untuk menjawab telepon itu. Lagi dan lagi handphone itu berdering, namun kali ini diraihnya benda itu namun dimatikan. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu ruang itu lalu masuk seorang laki-laki yang tak lain dari komisi anti korupsi beserta dua orang petugas dari kepolisian.

Petugas1: “Selamat siang, Anda kami tahan. Ini surat tugasnya.“ Ucapnya dengan nada tegas sambil menunjukkan selembar surat tugas.

Ayah: “Baik pak, tapi sebentar saya mau membereskan meja kerja saya dulu.“ Balas ayah Mila kepada petugas itu.

Petugas1: “Tidak usah pak, waktu kita tidak banyak.“ Ucap kembali petugas itu pada ayah Mila dengan nada tegas.

Ayah: “Baiklah…“ Balas ayah Mila dan langsung menyerahkan diri pada petugas anti korupsi itu.

 

Dengan segera mereka keluar dari ruangan itu dengan menggiring ayah Mila, sedang di luar ruangan itu masih ada beberapa petugas yang menunggu dengan beberapa koper besar kosong dan beberapa tas untuk melaksanakan tugas lain yakni mencari dan mengumpulkan barang bukti sebagai pelengkap dalam persidangan nantinya dan para karyawan hanya bisa diam melihat bos mereka dibawa oleh petugas begitu juga dengan sopir Pak Wardi hanya bisa menatap diam tak bisa berbuat apa-apa. Sedang Mila yang tak tahu juga dengan kondisi sang ayah yang notabene tengah ditangkap oleh petugas anti korupsi sedang bersenang-senang dengan keempat temannya di sebuah kafe di bilangan Jakarta Selatan. Mereka saling bercanda tawa seakan tiada beban yang dipikul dan waktu pun tak terasa sudah menjelang malam, akhirnya mereka bubar dari tempat itu dengan keceriaan yang masih terlihat. Malam itu ketika Mila tiba di rumah, dia mendapati sang ibu tengah duduk di ruang tengah dan menangis tersenduh-senduh.

Mila : “Bu… Ibu… Ada apa bu…?“ Tanya Mila dengan penasaran dan langsung duduk di sebelah ibunya.

Ibu: “Ayah Mil… Ayah…..“ Ucap ibu pada Mila dengan tangisan yang makin menjadi seakan tak mampu untuk menjelaskannya.

Mila: “Ayah kenapa bu…. ?“ Tanya Mila kembali dengan penasaran

Ibu: “Ayah… Ayah ditahan oleh anti korupsi atas tuduhan pencucian uang dan grativikasi.“ Ucap ibu Mila dengan isak tangis yang tak terbendung.

Mila : “Terus kita bagaimana bu…?“ Tanya kembali Mila dengan nada agak berat dan linangan air mata yang perlahan jatuh di pipinya.

Ibu: “Ya… kita hanya dikasih waktu tiga hari untuk meninggalkan rumah ini, karena seisi rumah dan kendaraan telah disita.“ Jawab ibu kepada Mila dan memeluknya sambil mengusap-usap pipi Mila yang basah akan air mata itu. “Nanti kita pindah ke Bandung saja, di rumah nenek yang sudah lama kosong.“ Ucap ibu pada Mila.

Mila: “Jadi aku pindah sekolah ke Bandung dong bu…?“ Tanya Mila sambil menangis di pangkuan ibunya.

Ibu: “Ya…, dan ibu sudah menghubungi wali kelasmu dan kepala sekolah. Mereka pun sudah tahu apa yang terjadi dengan ayahmu melalui berita di TV.“ Jawab ibu sambil menangis kecil dan mengusap-usap rambut Mila.

Sedang di sisi lain ruangan, tampak Lastri dan Pak Wandi turut bersedih menyaksikannya. Mereka hanya bisa diam tak berdaya seakan langit runtuh di atas kepala dan air matapun tercurah tak terbendung. Pagi itu terlihat ibu Mila tengah merapikan baju-bajunya di koper dan beberapa kardus kosong, sementara Mila sendiri baru terbangun dari tidurnya dan ia pun menuju ke kamar menjumpai ibunya di kamar yang sedang sibuk merapikan barang-barang yang akan dibawa ke Bandung.

 

Mila: “Pagi Bu…., Aku bantu ya….. ?“ Ucap Mila dengan nada berat dan tangis kecil yang menghiasi suasana pagi itu.

Ibu: “Ya… Yang kuat ya Mil, kita harus ikhlas.“ Balas ibu pada Mila dengan nada berat sambil memegang pundak Mila.

Mila : “Iya bu…“ Jawab kembali Mila dan meneruskan merapikan barang-barangnya.

 

Pagi itu Pak Wandi telah menyiapkan sebuah mobil yang dipinjamnya dari saudaranya dan satu per satu bungkusan barang-barang itu dimuatnya ke dalam mobil, tersisa koper yang masih berada di kamar. Setelah selesai Lastri dan Pak Wandi pun menunggu di depan pintu rumah, tak lama kemudian Mila dan ibunya keluar sambil menyeret beberapa koper pakaian yang akan dibawa.

Pak Wandi : “Mari bu saya bantu…“ Ucap Pak Wandi sambil meraih koper itu dan langsung memuatnya di mobil lalu kembali berdiri di samping Lastri.

Ibu: “Terima kasih Lastri…, Terima kasih Pak Wandi karena sudah mau membantu keluarga ini baik suka maupun duka. Dan ini gaji terakhir kalian dan sedikit pesangon dari kami sekeluarga, maaf jika masih ada kesalahan-kesalahan yang kami lakukan terhadap kalian.“ Ucap ibu Mila sambil menyodorkan amplop uang itu.

Pak Wandi: “Tidak bu… itu buat pegangan ibu saja, saya dan Lastri masih ada tabungan. Justru saya dan Lastrilah yang seharusnya berterima kasih pada keluarga ibu yang sudah begitu baik mempekerjakan kami.“ Ucapnya sambil menolak amplop gaji yang disodorkan ibu Mila.

Lastri: “Iya bu…, berkat keluarga ibu pula lah kami bisa mengangkat derajat keluarga. Yang tadinya tidak ada apa-apa menjadi ada, yang tadinya serba kekurangan kini menjadi tercukupi.”

 

Sejenak mereka terhanyut dalam kesedihan, Mila yang tak tahan langsung memeluk Lastri dan Pak Wandi dengan linangan air mata yang makin deras bercucuran serta suara yang sedikit tersendu-sendu. Setelah menutup pintu dan mengunci pagar rumah itu, mereka langsung berangkat menuju Bandung, namun mampir sejenak di kantor komisi anti korupsi untuk menyerahkan kunci rumah serta menjenguk ayah Mila untuk memberikan dukungan serta semangat. Tak lama kemudian mereka melanjutkan perjalan dan Lastri diantarkan lebih dulu di rumahnya. Setibanya di rumah nenek di Bandung, pak Wandi pun masih membantu sedikit membersihkan rumah yang sudah sekian tahun kosong itu hingga malam menjelang barulah pak Wandi kembali ke Jakarta.

Pak Wandi: “Bu…, semua sudah bersih. Saya mau pamit kembali ke Jakarta, kalau ada apa-apa tinggal telepon saya saja.“ Ucap Pak Wandi.

Ibu: “Iya pak…, terima kasih sebelumnya dan sampaikan salam saya buat keluarga di sana.” Ucap ibu Mila kembali dengan senyuman kecil.

Pak Wandi: “Iya bu…, nanti saya sampaikan. Permisi bu…“ Balas Pak Wandi dan langsung beranjak dari rumah itu.

 

Semenjak itu Mila dan ibunya melewati kehidupan di kota Bandung dengan segala keadaan dan kondisi yang terbalik dari sebelumnya, yang mana dahulu masih serba ada tanpa kekurangan suatu apapun. Tak hanya itu saja, terkadang Mila dan ibunya hanya makan seadanya saja tanpa lauk dan sayur, sedang ayahnya masih menjalani masa tahanan di Jakarta. Hingga suatu saat ketika Mila pulang sekolah dia tidak mempunyai uang untuk naik bus atau angkutan kota, dengan terpaksa ia pun sering berjalan kaki dan harus menempuh jarak yang lumayan jauh dan membuatnya sangat melelahkan. Ketika di tengah perjalan ada sebuah buku kecil yang terhempas tertiup angin di pinggir jalan, ia pun menggapainya sambil membuka buku itu perlahan-lahan. Setelah dilihatnya ternyata buku resep membuat kue, ia pun membawanya pulang buku itu. Malam itu setalah membuat tugas sekolahnya, Mila berbaring di tempat tidurnya. Ia terus berpikir akan keadaan dan kondisi keluarganya yang semakin lama makin terpuruk keuangannya, gelisah dalam jiwanya semakin tak terbendung.

Di dalam kamar dia mondar-mandir untuk mencari solusi masalah, sejenak ia duduk di pinggir ranjangnya dan tak disengaja matanya menoleh ke sebuah buku yang ada di meja belajarnya, lalu ia pun menggapainya dan melihat-lihat isi buku resep kue itu. Satu per satu resep kue dibacanya, dari resep jajanan pasar hingga kue bertaraf internasional. Waktu semakin larut, matanya semakin sayup, mulutnya beberapa kali menganga bertanda rasa kantuk yang sangat. Akhirnya Mila tertidur dengan posisi setengah duduk dan masih memegang buku resep kue hingga pagi menjelang. Pagi itu Mila tiba di sekolah, dia bertemu dengan teman dekat satu kelasnya yang tak lain Vita, dan mereka pun berjalan sama-sama menuju ruang kelas. Saat di dalam kelas terjadilah dialog antara Mila dan Vita.

Mila: “Vit…. Di sini tuh kuliner berkembang pesat ya…?“ Tanya Mila pada Vita.

Vita: “Oh iya… apalagi pemerintah mendukung dengan adanya wisata kuliner, makanya Bandung dijuluki sebagai kota Wisata kuliner terbaik di Indonesia dan bukan hanya itu saja, sekarang Bandung juga dijuluki kiblatnya fashion para kawula muda-mudi sampai-sampai bisnis fashion dan kuliner sangat menjanjikan di kota ini Mil…“ Ucap Vita pada Mila sambil menjelaskan sedikit.

Mila: “Wah… bagus juga ya…. Apalagi kita yang masih muda bisa dapat kesempatan untuk menunjukkan bentuk kreativitasnya.“ Ucap Mila dengan menunjukkan rasa kagumnya akan kota kecil yang memiliki mimpi.

Vita: “Pastinya… eh emang kenapa sih.. kok tiba-tiba kamu nanya begitu?“ Tanya Vita kembali dengan penasaran pada Mila.

Mila: “Ah… gak apa-apa. Cuma ingin tau aja…“ Jawabnya kembali pada Vita.

 

Siang itu sepulang sekolah, Mila mencoba melihat-lihat kiri dan kanan di sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Banyak lapak-lapak kecil yang menjajakan kuliner dan toko-toko fashion kawula muda, tiba-tiba dia berhenti di simpang jalan, ia duduk sejenak melepas lelah, tak disengaja matanya tertuju pada satu toko kue. Di sana orang-orang tiada henti keluar masuk di toko kue itu, saking penasarannya ia pun mendekati toko itu untuk melihat-lihat akan keramaian di toko itu. Keingintahuannya membuat dirinya hanya bisa melihat dari luar di balik kaca tebal, tiba-tiba dari belakang ada yang menepak pundaknya dan sontak Mila terkejut.

Mila: “Aaahhhh…. Eh kamu Vita.“ Ucapnya dengan terkejut dan sedikit mengusap dadanya.

Vita: “Nahhh… ayo ngapain…? Ayo masuk…!“ Tanya Vita dan mengajak Mila untuk masuk

Sejenak Mila terdiam, dalam hatinya penuh dengan tanda tanya dan rasa penasaran yang bergejolak, akhirnya dia pun menuruti ajakan Vita.

Mila: “Ha… ok deh…“ Ucapnya dan langsung melangkah mengikuti Vita. “Wah…. Banyak juga orang yang beli kue di sini ya… padat lagi antriannya…“ Sambung ucapannya pada Vita sambil melihat-lihat kue yang ada di etalase kaca.

Vita: “Ya… bahkan sampai toko ini tutup pun masih saja ada yang mengantri, terus kue hasil produksi di tempat ini telah terkenal hingga ke luar negeri, Eropa dan Amerika adalah salah satu tempat ekspansinya dan tak tanggung-tanggung hampir setiap tahunnya kue di toko ini dipesan oleh para pejabat sampai Presiden pun sudah menjadi langganan di tempat ini. Itu foto-foto langganan toko kue ini.“ Ujar Vita pada Mila dan menunjukkan foto-foto di dinding toko itu. “Duduk yuk…. Nah ini cobain dulu kuenya, jangan bilang kalau kamu gak suka.“ Ucapnya kembali sambil memberikan kue pada Mila.

 

Seketika Mila tak bisa berkata apa-apa ketika sepotong kue itu masuk di mulutnya, cita rasa kue yang begitu nikmat dengan rasa yang menusuk hingga ke otaknya seakan dapat mengubah gairah seseorang. Setiap gigitan dari kue itu dinikmatinya hingga ke otak dan sejenak melumpuhkan saraf-saraf sadarnya, ia pun seperti orang mabuk yang tak bisa sadar akan rasa kue itu.

Vita: “Gimana rasanya….?“ Tanya Vita pada Mila sambil mencolek di tangannya.

Mila: “Ooohhh… God… It’s amazing…. Mmm…. Top banget.“ Ucapnya sambil mengacungkan dua jempol pada Vita

Vita: “Hahahahaha….“ Balas Vita dengan tawa kecil pada Mila dan melanjutkan menyantap kue.

Mereka pun terus menikmati kue itu sambil bercerita dan canda tawa yang melengkapi kebersamaan mereka hingga sore tiba dan akhirnya waktulah yang memisahkannya.

 

Malam itu Mila mendekati ibunya yang tengah duduk membaca majalah, ia ingin membicarakan sesuatu yang dipendam dari beberapa hari sebelumnya namun ia ragu akan tindakannya seakan rasa takut muncul dan membuat dirinya mondar-mandir di dekat ibunya. Sang ibu yang melihatnya menjadi penasaran akan tingkah laku Mila itu.

Ibu: “Mil… Kamu kenapa, mondar mandir gak jelas gitu.“ Tanya ibu pada Mila dengan tatapan mata yang penuh penasaran.

Mila: “Ini bu… eee… ini…“ Jawabnya dengan keraguan yang menerjang serta rasa gugup pada dirinya.

Ibu: “Ayo duduk dulu… kenapa ? “ Tanya ibu kembali pada Mila.

Mila: “Begini bu… Mila ingin usaha kecil-kecilan buat membantu keuangan keluarga kita.“ Ujarnya pada ibu.

Ibu: “Lalu… kamu maunya apa?“ Tanya kembali ibu pada Mila.

Mila: “Begini bu…. Mila butuh modal awal untuk usaha kecil-kecilan ini, itupun kalau ibu izinkan.“ Ujarnya pada ibu dengan rasa malu dan penuh harap itu.

Ibu: “Kamu mau usaha apa Mil…?“ Tanya kembali ibu padanya.

Mila: “Aku mau usaha kue dan cake, Bu, tapi kalau ibu izinkan. Modalnya kecil saja, Bu, cuma dua juta rupiah saja.“ Ujarnya kembali pada ibu.

Ibu: “Mil….. bukannya ibu menolak akan ide kamu untuk usaha kecil-kecilan itu, tapi perlu kamu tahu bahwa selama ini uang yang ibu simpan hanya cukup untuk biaya sekolah kamu sampai lulus SMA nanti. Jadi kalau bisa kamu tunda dulu ide kamu itu. Bagaimana….?“ Ujar ibu pada Mila.

Mila: “Iya bu…. Akan aku pertimbangkan lagi.“ Ucapnya pada ibu dan langsung beranjak dari tempat duduk menuju kamarnya.

 

Di dalam kamar Mila terus saja memikirkan bagaimana cara mendapatkan modal awal untuk memulai usahanya. Ia pun terus berpikir, dan akhirnya dia mendapatkan solusinya untuk mencari kerja paruh waktu. Esoknya di sekolah dia bertanya pada Vita.

Mila: “Vita… Kira-kira ada gak tempat yang mencari karyawan paruh waktu di Bandung?“ Tanyanya pada Vita.

Vita: “Kamu kenapa kok tiba-tiba tanya begitu?“ Tanya Vita kembali.

Mila: “Belakangan keuangan keluarga gua lagi merosot, ditambah ayah gua terjerat kasus korupsi. Please…. Dong Vit…. Gua lagi butuh banget nih..“ Ujarnya sambil memohon pada Vita.

Vita: “Ok… pulang sekolah nanti lu ikut gua, nanti gua temuin lu sama seseorang yang bisa kasih kerjaan paruh waktu. “ Ucapnya dengan nada pelan pada Mila.

 

Siang itu sepulang sekolah Vita dan Mila langsung bergegas pergi ke suatu tempat akan mereka tuju. Dengan langkah yang cepat mereka tiba juga di tempat yang dimaksud yakni sebuah distro yang menjual pakaian dan aksesoris para kawula muda.

Mila: “Ini tempatnya…? Besar juga ya…..“ Ujar Mila pada Vita.

Vita: “Udah… ayo masuk, gua kenalin lu sama yang punya.“ Ujar kembali Vita sambil mengajak masuk pada Mila. “Siang Kak… nah ini yang aku bilang tadi di telpon, namanya Mila.“ Ujar Vita sambil mengenalkannya.

Andre: “Gua Andre, sebenarnya lagi gak butuh-butuh banget karyawan cuma kar’na lu teman saudara gua aja jadi gua terima.“ Ujar Andre pada Milenial dengan nada agak sinis. “Oh ya… kerja lu di sini gak sibuk-sibuk amat, cuma jaga kasir rapikan etalase dan rak terus… bersih-bersih sedikit lah. Ok….“ Ujar kembali Andre pada Mila sambil memberitahukan akan pekerjaannya.

Mila: “Iya bos…. “ Jawabnya kembali.

Andre: “Ah…, panggil aja nama atau abang kalau lu sungkan. Oh ya…, satu lagi tugas buat lu bikin catatan setoran penjualan lalu setor ke gua, kalau stockist barang nanti gua yang kerjain. Dan kamu bisa mulai kerja besok dari jam 3 sore sampai jam 10 malam.

Mila: “Iya bang…“ Jawab Mila kembali seakan telah mengerti akan tugas-tugasnya.

 

Saat Andre sedang interview Mila, Vita tengah melihat-lihat beberapa model pakaian dan sesekali diukurkan di badannya. Tak lama kemudian Mila menghampiri Vita dan mereka pun langsung beranjak dari tempat itu.

Vita: “Gimana.. udah interviewnya…?“ Tanya Vita.

Mila: “Sudah… yuk pulang…?“ Jawab Mila dan mengajak pulang pada Vita.

Vita: “Ok…. Tapi gua mau mampir ke lain, kita pisah di simpang depan aja ya…?” Ujar Vita pada Mila.

Mila: “Ok… by the way thanks ya sudah bantuin gua nyariin kerjaan.“ Ujarnya pada Vita.

Vita: “It’s ok lah… yang penting selama lu ada niat baik buat keluarga pasti ada jalan keluarnya.“  Jawab Vita. “Yuk…., Kak, aku pamit jalan dulu ya…?“ Ajak Vita pada Mila sekalian pamitan pada Andre.

Andre: “Ok… hati-hati di jalan.“ Jawabnya pada Vita.

 

Di rumah malam itu Mila tampak senang akan pekerjaan yang dimulainya besok itu, di pikirannya mulai merancang-rancang akan rencananya ke depan. Keesokan harinya Mila memulai aktivitas barunya sebagai karyawan di toko itu, tampak kesibukan yang tidak terlalu padat, sedikit-sedikit Mila merapikan pakaian-pakaian yang ada di rak dan yang yang dipajang dengan gantungan baju. Begitu juga dengan Andre yang tengah sibuk memilih beberapa model pakaian baru dan aksesoris yang baru datang siang itu. Satu per satu konsumen mulai berdatangan untuk berbelanja dan Andre pun melayani beberapa konsumen, sedang Mila bersiap di kasir untuk melayani pembayaran. Waktu terus berjalan, sudah satu minggu Mila bekerja di toko itu. Sang ibu mulai curiga akan keberadaan Mila yang belakangan selalu pulang larut malam, suatu malam sang ibu menunggu Mila pulang hingga terlelap di kursi ruang tengah. Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka, sang ibu terbangun dari tidurnya dan ternyata datang juga orang yang ditunggu-tunggu yang tak lain Mila.

Mila: “Malam Bu….“ Ucapnya dan menutup kembali pintunya.

Ibu: “Malam… Ibu mau ngomong sama kamu.“ Ucap ibu pada Mila dengan nada tegas. “Kamu dari mana saja, sudah beberapa hari ini kamu selalu pulang larut malam…?” Sambung ibu bertanya pada Mila.

Mila: “Aku belakangan sedang banyak tugas, bu, dan kadang-kadang terbentur dengan belajar kelompok. Apalagi sudah mau dekat-dekat semester begini. “ Ujar kembali Mila pada ibunya.

Ibu: “Jangan banyak alasan deh… pokoknya mulai besok kamu harus pulang selesai sekolah. Tidak ada embel-embel pokoknya.“ Ucap ibu kembali dengan nada keras dan tegas.

Mila: “Iya bu….“ Jawab Mila dan langsung menuju kamar.

 

Keesokan harinya di sekolah tepatnya jam istirahat tampak Mila dan Vita sedang mengobrol di meja kantin sekolah sambil makan bakso.

Mila: “Vit…. Semalam pas gua pulang rumah, kirain ibu sudah tidur ternyata lagi nungguin. Terus gua ditanyain habis dari mana kamu dan ngapain aja kamu pulang sudah larut and blablabla… menurut lu gimana nih…? Apa gua ngomong aja kali ke ibu, kalau gua ambil kerja paruh waktu…?“ Ujar Mila dan meminta saran pada Vita.

Vita: “Ehhh… jangan… entar lu di omel-omelin lebih parah lagi sama ibu lu. Bilang aja lu lagi banyak tugas dan belajar kelompok.“ Jawab Vita.

Mila: “Itu sudah gua omongin semalam, nah yang gua takutin buat berikutnya nih gimana…?“ Ucap Mila kembali seakan bingung.

Vita: “Udah.. tenang aja… yang penting lu punya niat baik dan gak macem-macem. Nanti juga ibu lu akan tahu apa yang lu lakuin selama ini.“ Ucap Vita kembali dengan sedikit saran pada Mila.

 

Akhirnya mereka pun melanjutkan makanan itu dengan canda tawa kecil mereka. Setelah beberapa hari kemudian sang ibu Mila makin penasaran akan aktivitas anaknya, dan segera suatu hari sang ibu mengintai Mila dari sekolahnya. Dan akhirnya jam sekolah selesai juga, sang ibu dengan misi pengintaiannya menunggu Mila untuk keluar sekolah dan tiba-tiba dari seberang jalan di mana sang ibu berdiri terlihat Mila sedang mengobrol sedikit dengan temannya yang tak lain Vita, namun hanya sebentar dan langsung di pagar sekolah. Sang ibupun membuntuti Mila dengan jarak yang cukup aman hingga terhenti di suatu tempat di mana Mila bekerja, dengan rasa kagum dan bercampur di dalam hati sang ibu, secara perlahan sang ibu meneteskan air matanya setelah melihat apa yang dilakukan Mila lalu pergilah sang ibu dengan langkah cepat dan rasa kecewa karena telah berprasangka buruk pada anaknya Mila. Malam saat Mila pulang, dia melihat di meja makan ada sepiring makanan kesukaannya dan segelas air putih dan secarik yang bertuliskan (Habiskan ya… jaga kesehatan I love you… ) dengan perlahan Mila duduk dan memakannya sambil menitihkan air mata dan tangan yang gemetar kala ia menyuapkan nasi itu ke mulutnya perlahan hingga tangisnya makin menjadi sejenak terhenti ia memakannya. Saat sedang tenggelam dalam tangisnya, sang ibu memegang kedua pundaknya dari belakang dan berdiri di sisi kiri hingga akhirnya Mila pun jatuh kepelukan ibunya dengan tangis yang makin keras. Merekapun hanyut dalam suasana dan menangis bersama. Setelah satu bulan ia bekerja di toko baju itu, ia pun mendapatkan gaji pertamanya. Sepulang dari kerja hari itu ia langsung menuju swalayan untuk membeli bahan-bahan membuat kue yang sudah ditulisnya di sebuah kertas kecil. Tak hanya itu saja ia pun membelikan sebuah baju untuk ibunya di sebuah toko pakaian yang tak jauh dari swalayan itu, di perjalanan pulang hatinya begitu senang hingga ia pun tiba di rumah. Namun ibunya sudah terlelap tidur dan iapun menyimpan hadiah itu untuk diberikannya besok pagi. Di malam itu juga ia langsung belajar membuat kue yang ia baca dari buku resep membuat kue, tampak kesibukan di malam yang larut itu. Satu per satu bahan kue itu mulai dicampurnya dan iapun mulai mempraktekkannya membuat adonan cup cake. Mesin blender untuk mencampur adonan itu mulai bekerja, suaranya terdengan sangat berisik malam itu dan membuat ibunya terbangun namun hanya mengintip dari dalam kamar tidak keluar. Ia melihat Mila tengah sibuk membuat kue dan terkadang tertawa kecil melihat Mila yang mulai belepotan dengan tepung di tangan dan di wajahnya. Dengan maksud untuk tidak mengganggu Mila, ia pun kembali tidur. Keesokan paginya ia mendapatkan Mila tertidur pulas di meja makan dengan beberapa cup cake yang sudah jadi dibuat anaknya dan bahan-bahan kue yang berserakan.

 

Ibu: “Mil… bangun…. Mil…. bangun. Sudah pagi….“ Ucap ibu sambil membangunkan Mila dengan menepuk pundaknya perlahan-lahan.

Mila: “Pagi bu….“ Ucap Mila dengan mata yang sayup-sayup dan masih tersa kantuk itu.

Ibu: “Mandi sana, nanti kamu telat sekolahnya. “ Ucap ibu sambil membereskan meja makan yang berserakan dengan bahan-bahan kue.

Mila: “Iya bu…. “ Balasnya pada ibu dan beranjak ke kamar mandi.

 

Setelah bersiap-siap untuk sekolah, Mila pun keluar dari kamar dengan sebuah pemberian untuk ibunya. Di meja makan itu saat tengah sarapan bersama ibunya, Mila mengeluarkan perlahan bungkusan dari tasnya dan memberikan dengan meletakkannya di meja.

Mila: “Ini buat ibu…” Ucapnya sambil memberikan bungkusan itu pada ibunya perlahan-lahan.

Ibu: “Apa ini Mil…?“ Tanya ibu sambil melihat bungkusan itu.

Mila: “Ini untuk ibu yang sudah merawat aku dari lahir hingga sebesar ini, yang menyayangi aku dengan cinta, dan yang paling cantik sedunia.“ Jawabnya dengan senyuman dan rasa kagum yang mendalam.

Ibu: “Ah kamu…. Bisa aja anak ibu. Makasih ya….. “ Ujar ibu dan mengambil bungkusan itu.

 

Itu hari di sekolah Mila memberikan kue hasil bikinannya untuk dicobai oleh Vita dan teman-temannya yang lain.

Vita: “Ini kamu yang bikin Mil…?“ Tanya Vita pada Mila.

Mila: “Iya…, makanya coba aja dulu dan jangan lupa komennya….“ Jawabnya kembali pada Vita.

Vita: “hhhmmmm… lumayan enak, tapi ada rasa getir-getirnya sedikit. Kamu pake pewarna makanan yah…?” Jawabnya dengan sedikit komentar dari rasa kue itu dan diikuti dengan komentar teman-teman lainnya.

Mila: “Iya… jadinya enggak enak ya…?“ Ucap Mila dan kembali bertanya pada Vita.

Vita: “Enak juga…. Tapi kamu salah kalau pakai pewarna makanan.“ Jawab Vita kembali.

Mila: “Sorry deh.. aku kan masih belajar.“ Ujarnya dengan rasa sedikit menyesal akan kue hasil buatannya itu.

 

Mulai dari kejadian di kelas itu, Mila pun menjadi lebih semangat untuk belajar membuat kue dan mencari informasi akan pembuatan pewarna makanan secara alami. Hampir setiap malam ia terus belajar dan bukan hanya satu jenis kue saja yang ia pelajari melainkan beberapa jenis kue dari yang paling mudah cara pembuatannya sampai paling sulit sekalipun dipelajarinya. Hari-hari pun berlalu ia seakan tak pernah lelah akan tekadnya itu, dan semakin lama banyak dari teman-temannya berkomentar sangat baik akan kue hasil buatannya itu sampai ada yang menghargai kue itu dengan sejumlah uang dan akhirnya hampir semua siswa banyak yang membelinya. Mulai dari itulah ia dapat mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk membuka usahanya, hingga tak terasa ia pun sudah beranjak di kelas 3 (semester terakhir dalam sekolah) dan semakin tenar juga kue yang dijajakannya itu bahkan sampai ke telinga guru-guru dan para orang tua siswa. Dan tak hanya itu saja, bahkan ada yang mau mengajak bermitra namun ia menolak, semakin lama berita akan lezatnya kue buatan Mila tersebar luas dan akhirnya ia meminta bantuan pada Vita untuk membuatkan media promosi kue buatannya itu.

Mila: “Vita…, tolongin gua dong buat bikinin brosur kue…“ Ujarnya pada Vita.

Vita: “Boleh.. tapi gua harus jadi partner bisnis lu, gimana….?“ Jawab Vita dengan dengan persyaratannya itu.

Mila: “Ok…, tapi gimana modal buat kita mulai….“ Tanya ia kembali pada Vita.

Vita: “Nah… untuk modal awal gua kasih Rp 2 juta, kalau kurang nanti gua tambah. Terus kalau masalah brosur nanti gua urus, pokoknya lu tinggal kasih gua foto kue-kuenya dan harganya. Gimana deal….?“ Ujar Vita pada Mila.

Mila : “Ok… gua deal, tapi jangan curang ya…“ Ucap Mila pada Vita.

Vita: “Tenang pokoknya semua uang pengeluaran dan uang masuk gua catat, pokoknya semua hal tentang market dan keuangan gua yang urus.“ Ujarnya dengan meyakinkan Mila.

 

Seiring waktu berjalan semakin banyak pula orang yang tahu akan usaha kue yang dijalani oleh Mila semenjak Vita menyebarkan brosur-brosur kue itu. Mila akhirnya merekrut beberapa orang pegawai pribumi untuk membantunya dalam pengolahan kue yang dijalaninya bersama sang ibu yang dicintainya.

 

###

 

Setelah beberapa bulan kemudian keuangan dari usaha kecil itu mulai meningkat bahkan Vita sekalipun sudah merasakan hasil dari usaha yang mereka rintis itu meski belum seberapa besar nilai yang dirasakannya, namun kegigihan dan komitmenlah yang membuat Vita, Mila serta sang ibu yang siap membantu mereka menjadikan usaha ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Suatu hari Mila dan Vita membicarakan masalah kehadirannya di tempat kerja di toko baju itu, dia merasa tidak enak hati karena sering absen.

Vita: “Udah kamu tenang aja…, dia sudah tahu kok….“ Ujarnya pada Mila.

Mila: “Hahhh… Kok bisa…gimana ceritanya?“ Jawabnya dengan rasa penasaran.

Vita: “Jadi gini… waktu lu minta tolong sama gua soal brosur kue, itu tuh dia yang desain dan dia juga yang cetak. “ Ujarnya kembali pada Mila.

Mila: “Ohhh… pantasan beberapa berapa bulan sejak aku jarang masuk kerja, dia sudah tahu dan gajian pun dia enggak potong juga.“ Jawabnya kembali setelah mengetahui dari Vita.

Vita: “Ya…, dia bahkan mau kasih lebih sebagai modal usaha kamu, cuma dia merasa enggak enak aja sama kamu. Oh ya… minggu depan dia pergi ke London untuk melanjutkan kuliahnya S2 bidang bisnis administrasi terus semua usahanya yang ada di sini dilimpahkan ke temennya selama dia di London nanti.“ Ujarnya pada Mila.

Mila: “Loh… bukannya usaha dia cuma toko baju itu aja…?“ Tanya Mila kembali.

Vita: “Ada banyak tau outletnya, kalau dihitung-hitung ada sekitar 20 otlet yang tersebar sampai ke Surabaya. Sampai sekarang semua masih berjalan lancar-lancar.“ Ujarnya kembali pada Mila.

Mila: “Wow… Amazing banget ya abang Andre…?“ Ujarnya sambil memuji.

Vita: “Kenapa…. Kamu suka ya sama abang Andre…. Kok kayak peduli amat waktu aku ngejelasin ke kamu kalau dia mau kuliah ke London. Kayak jatuh cinta gituu.

Mila : “Enggak gitu juga kali…, maksudnya tuh ya… aku care aja gitu…“ Ucapnya dengan sedikit mengalihkan.

Vita: “Cie…cie…cie…cie… peduli apa peduli… jujur aja kali…“ Ucap vita kembali dengan setengah meledeknya.

Mila: “Ahh….. kamu bisa aja….” Ucapnya kembali dengan wajah yang tersipu malu.

 

Waktu terus berjalan, haripun silih berganti tak terasa Mila sudah menyelesaikan SMAnya dengan predikat yang baik, dia pun mengambil keputusan untuk konsentrasi di usaha kecilnya yang terus berkembang. Mila pun mulai merekrut orang lagi dengan memperdayakan ibu-ibu tetangganya dan memberikan pelatihan yang baik agar merekapun bisa bekerja dengan baik. Tak hanya itu saja dia mulai mengajak siapa saja bagi yang mau bermitra dengannya serta memberikan penyuluhan-penyuluhan kepada ibu-ibu rumah tangga yang mau berwiraswasta di rumah tanpa harus membuka lapak dengan modal seadanya serta pelatihan-pelatihan berwirausaha skala menengah ke bawah. Selama satu tahun Mila dan Vita bisa menciptakan mitra-mitra yang loyal sebanyak 30 mitra yang tersebar di seluruh kota Bandung dan sekitarnya, bahkan para mitra mulai merasakan keuntungan yang berlipat ganda serta melalui metodenya banyak para pengangguran mendapatkan pekerjaan dari usaha kecil Mila. Tepat satu tahun sudah Mila konsentrasi dengan usahanya, ia pun melanjutkan kuliahnya di salah satu universitas dan banyak juga yang ia dapatkan dari jurusan yang ia geluti baik dari segi strategi market dan tata kelola keuangan. Sambil kuliah, dia pun mulai mencoba bisnis baru di bidang properti yang dilihatnya sangat menjanjikan

Ia pun mengajak kembali Vita untuk dapat berkolaborasi dalam bisnis properti, namun kali ini Vita tidak ragu lagi akan langkahnya bersama Mila dalam bisnis baru itu. Merekapun mencoba membeli sebuah rumah di wilayah pinggiran Bandung dengan modal yang tak lebih dari seratus lima puluh juta rupiah.

Vita: “Mil… mudah-mudahan bisnis lu yang baru ini berkembang juga yah…?“ Ucapnya dengan penuh harapan pada Mila.

Mila: “Hahhh… gua… kita kali Vita. Masa cuma gua aja, kan ada uang lu juga di dalamnya, beda kalau pakai modal gua aja. Kan lu juga ada andil.“ Ujarnya kembali pada Vita

Vita: “Enggak Mil…. ini tuh bisnis lu, berdiri karena lu, kalau gua cuma bantu dari segi keuangan saja sudah cukup. Asalkan lu senang menjalankannya, gua juga ikut senang.“ Ujarnya kembali dengan merendah hati.

Mila: “Vit… usaha kue kita gimana, apa ada perkembangannya gak…?“ Tanya Mila pada Vita.

Vita: “Masih lancer-lancar saja, bahkan sudah nambah 5 mitra baru di luar Bandung. Satu mitra di Sukabumi dan yang satunya di daerah Subang sedang lainya ada yang di Bogor, dan dua mitra sisanya ada yang di Cirebon serta Purwakarta dan gua juga sudah survei tempat mereka serta wilayahnya yang strategis. Pokoknya tenang saja, aku dan ibu kamu akan terus menjalankan bisnis kamu dengan baik. Dan gua juga mau terima kasih sama lu yang sudah memberikan kepercayaan lebih untuk menjalankan bisnis ini.“ Ujarnya sambil mendekap tubuh Mila dengan rasa bangga yang bercampur haru keduanya.

Mila: “It’s ok Vit… tapi yang pasti gua enggak mau kalo gua sukses hanya sendiri. Gua mau berbagi dengan orang-orang terdekatku telebih kamu yang sudah sekian lama bersamaku, dan ini juga berkat Tuhan yang dititipkan padaku bukan semata-mata untukku sendiri pula tapi hanya diberikan kepercayaan oleh Tuhan untuk kukelola dan berbagi dengan yang kurang beruntung dari aku.“ Ujarnya kembali dengan merendah pada Vita.

Vita: “Ooouuu….. ini sosok malaikat di dunia yang aku cari.“ Ujarnya dengan rasa haru yang tak terkira.

 

Semakin lama bisnis Milenial di bidang jual-beli properti semakin maju, namanya mulai terdengar di telinga-telinga para pelaku bisnis yang lain dari kelas teri sampai kelas kakap. Tak hanya itu saja, ia pun sering diundang di beberapa seminar di universitas-universitas ternama di Indonesia sebagai pengusaha termuda yang sukses.

 

###

 

Siang itu di sebuah kantor pengembang properti tampak ramai akan pembicaraan karyawan yang membaca sebuah media cetak yang beredar hari itu. Tak lama kemudian Dony tiba di kantor dan dia melihat para karyawannya yang tengah berkumpul.

Dony: “Pagi… ada apa ini, pagi-pagi juga udah pada ribut?“ Tanya Dony sambil mendekat ke meja di mana karyawannya berkumpul.

Pegawai: “Ini pak, seorang mahasiswi di Bandung yang sukses dengan bisnis propertinya. Bahkan dia masih kuliah dan sudah memiliki pendapatan lebih dari 100 jutaan per bulannya.“ Ujar pegawai itu sambil menunjukkan koran yang dibacanya.

Dony: “Mana korannya saya lihat dulu, dan kalian bubar. Masih pagi pada ngumpul-ngumpul.“ Ucap Dony sambil membawa koran itu ke dalam ruangannya, setengah berlari.

 

Di ruangannya Dony masih penasaran akan pemberitaan yang ada di media cetak itu, ia pun mengambilnya dan mulai membacanya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat foto profil yang ada di koran itu, saking penasaran ia terus membacanya sambil menikmati kopi yang telah disediakan pegawainya. Siang itu saat jam makan siang di sebuah restoran ia melihat berita di TV, di berita itu berisikan siaran tentang pengusaha muda yang sukses yang tak lain adalah Mila. Dia terus berpikir bagaimana bisa ada orang seperti Mila yang masih muda sudah sukses dalam bisnis properti sedangkan dia hanya usaha dari warisan orang tuanya saja dan belum tentu dia bisa seperti itu. Di akhir berita di TV itu ada info dari pembawa berita akan adanya seminar terakhir tentang investasi dan properti dengan bintang tamu Mila yang akan dilaksanakan satu minggu dari hari itu. Setelah melihat berita itu Dony pun berniat untuk ikut  seminar itu sekaligus untuk bertemu dengan Mila. Di hari seminar itu Dony tampak serius mengikutinya bahkan pendengaran dan matanya pun tak berpaling dari sosok Mila yang menjadi bintang tamu kali padahal ada beberapa bintang tamu kala itu. Saat sesi tanya jawab dengan Mila, Dony pun dengan cekatan mengacungkan tangannya ke atas terlebih dahulu untuk mendapatkan kesempatan pertamanya.

 

Dony: “Saya mau tanya pada Mila, bagaimana caranya Anda memulai bisnis ini dengan sukses. Padahal Anda termasuk pendatang baru di dunia bisnis ini, apalagi di bidang properti?” Tanyanya pada Mila.

Mila: “Enaknya saya berdiri saja. Jadi begini, pertama saya memulai usaha saya dari kepahitan yang tidak terduga waktu itu. Padahal kalau mau dipikir saya hidup dari keluarga yang serba berkecukupan, papa saya bekerja di pemerintahan di bidang perpajakan. Nah… suatu ketika papa saya terkena kasus pencucian uang yang menyebabkan beberapa koleganya juga turut jadi tersangka dan akhirnya saya dan ibu harus pindah ke rumah nenek di Bandung. “

“Kedua, saya dan ibu hidup berhemat. Sampai-sampai kami harus melewati yang namanya makan nasi dan garam dan itu berlangsung hingga berbulan. Dan saya harus melanjutkan  sekolah dengan biaya yang tersisa dari uang simpanan ibu terus berangkat dan pulang sekolah harus jalan kaki dengan jarak antara sekolah dan rumah kurang lebih hampir 10 km. Suatu ketika saya mendapatkan buku resep membuat kue di jalan kala saya pulang sekolah dan sampai sekarang buku itu masih ada. “

“Ketiga, waktu itu saya berniat meminjam uang dari ibu untuk modal awal sebesar 2 jutaan dan sempat dipertanyakan oleh ibu akan uang itu tapi tetap saja walau saya sudah utarakan akan niat saya untuk usaha kecil-kecilan saya uang itu tak kunjung kudapatkan juga. Akhirnya saya meminta bantuan teman saya untuk mencarikan kerjaan paruh waktu dan akhirnya dapat juga tapi konsekuensinya saya harus pulang larut malam, hingga suatu saat ibu curiga sama saya yang sering pulang larut malam sampai-sampai ibu mengintai aktifitas saya setelah pulang sekolah dan memang salah saya juga tidak memberitahukan pada ibu kalau saya kerja paruh waktu di toko baju. Malam ketika saya pulang ibu sudah tidur di kamar dan di meja makan ada sepiring makanan kesukaan saya yaitu ayam bakar dan ada secarik kertas yang bertuliskan (Habiskan yah… jaga kesehatan I love you…) saat sedang makan saya menitihkan air mata. Seketika ibu memegang pundak saya dari belakang dan berdiri di samping kiri saya, dengan rasa yang udah enggak bisa ditahan lagi saya langsung peluk ibu dan menangis sejadi-jadinya. Mulai saat itu juga aku ngomong jujur pada ibu dan dari situ tekad saya terbentuk untuk mencapai sasaran yng sebenarnya. “

“Keempat, uang gaji yang saya dapat dipergunakan untuk saya belajar membuat kue dan kebanyakan selalu gagal adonannya. Kadang bantet jadinya dan kadang juga mentah di tengahnya. Seiring waktu berjalan akhirnya saya bisa kuasai beberapa resep kue dan dari situlah saya mulai mengenalkan resep kue saya pada teman sekolah saya, hingga akhirnya kue yang saya buat terdengar sampai ke telinga para guru-guru di sekolah saya bahkan sampai orang tua siswa sekalipun. Sejak saat itu saya mulai meraup rupiah sedikit demi sedikit, sampai sekarang usaha kue saya masih berjalan dan sudah memiliki mitra sebanyak lima puluh mitra yang ada di Bandung dan sekitarnya dengan omset rata-rata 100 juta per bulan bahkan lebih.“

 

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *