Investasi Properti di Kota Cerdas

A city is not gauged by its length and width, but by the broadness of its vision and the height of its dreams. ― Herb Caen

Peluncuran Indeks Kota Cerdas Indonesia 2015 berlangsung akhir Maret lalu di Jakarta. Pemerintah kota mulai bangkit dan berbenah infrastruktur, ekonomi sektoral, pendidikan hingga kesehatan.

Secara global pada 2050, penduduk kota diproyeksikan menjadi 9,6 miliar, dan akan terus meningkat serta menimbulkan beragam tantangan, hal itu menuntut adanya sebuah kota yang lebih inovatif. Diperkirakan 1 dekade mendatang sekitar 57% penduduk Indonesia akan tinggal di kota karena semakin terdesak mencari kerja, membuat kebutuhan sumber daya menjadi melonjak yang meliputi transportasi, energi, pengelolaan sampah, maupun lingkungan.

Tentramnya kehidupan kota apabila adanya ruang hijau terbuka, struktur transportasi memadai, hunian aman serta alam yang bersahabat. Mewujudkan sekadar kota hijau tidaklah cukup, Indonesia membutuhkan sebuah kota cerdas yang memiliki teknologi informasi dan komunikasi (TIK) tinggi untuk membantu mengetahui persoalan di lapangan. Hal penting dalam pembangunan kota cerdas adalah memperbesar porsi energi baru terbarukan dan konservasi energi, karena kota yang semakin maju harus ditandai dengan berkurangnya emisi dan membesarnya porsi energi hijaunya.

Sejumlah faktor perlu dipenuhi untuk dapat mewujudkan kota cerdas, antara lain dari faktor ekonomi yang mengoptimalkan kapasitas sumber daya, dari faktor sosial yang memiliki keamanan, kemudahan dan kenyamanan. Dari faktor lingkungan tersedia tempat tinggal laik huni, sehat, hemat dalam penggunaan serta pengelolaan energi, dari faktor komunikasi antara masyarakat dan pemerintah berjalan sinergis, serta dari faktor edukasi adanya pemanfaatan TIK.

Konsep kota cerdas merupakan perluasan konsep kota hijau yang pernah diimplementasikan di 112 kota/kabupaten di Indonesia, merupakan inovasi yang digabungkan dengan aplikasi sistem TIK, antara lain perencanaan pembangunan, ruang terbuka hijau, transportasi, manajemen limbah dan air, bangunan dan energi. Beberapa kota sudah menerapkan tata kelola dengan memanfaatkan teknologi, yakni Banda Aceh, Balikpapan, Yogyakarta, Depok, Surabaya, Makassar, dan Bandung. Tata kelola pemerintahan dalam reformasi birokrasi memberikan kemudahan pelayanan masyarakat, membuat kota lebih terhubung, serta mengoptimalkan dan mempercepat servis publik.

Singapura sebagai Negara dan kota yang paling cerdas di Asia Tenggara tidak lepas dari kontribusi Lee Kuan Yew, mantan Perdana Menteri Singapura 1959-1990. Yang membuat suatu kota menjadi maju atau cerdas tidak hanya dari sistemnya, melainkan diwujudkan oleh kepemimpinan pejabat pemerintahannya tersebut, seperti Lee Kuan Yew yang berhasil membuat negaranya menjadi kota cerdas. Dia bukan membangun Singapura, tapi menciptakan Singapura. Kepemimpinan lebih penting dibandingkan teknologi.

Kota cerdas merupakan kota yang terus menerus meningkatkan kualitas hidup manusia. Kota sebagai sebuah ekosistem yang terdiri dari banyak subsistem dan komunitas, termasuk transportasi, energi, niaga, komunikasi dan sumber daya air. Tujuan kota cerdas adalah mempercepat temuan masalah, sebagai indikator bagi pemerintah, dan menciptakan pembangunan berkesinambungan. Kota cerdas tidak acap serupa dengan penerapan teknologi, yang paling utama adalah ihwal tata kelola dan pembangunan sumber daya manusia, yang pada akhirnya mendorong lahirnya peradaban baru yang lebih baik.

Faktor kesuksesan kota cerdas adalah juga karena aspek budaya. Pencapaian kota cerdas tidak hanya membangun manusia saja, melainkan membentuk masyarakat agregat, bukan hanya manusia per individu melainkan juga mutu hidup komunal. Kota cerdas bisa diwujudkan dengan kontribusi semua kalangan, dibutuhkan kerja cerdas semua pihak, serta rencana strategis yang terintegrasi dan berkesinambungan.

This city is what it is because our citizens are what they are. ― Plat

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *