the blog

Latest news.
Apakah Family Office Hanya untuk Miliarder?

Apakah Family Office Hanya untuk Miliarder?

Industri family office di Indonesia terus mengalami evolusi yang menarik. Dulu, citra family office sering kali terbayang sebagai lembaga eksklusif yang hanya melayani individu super kaya, para miliarder yang memiliki aset triliunan rupiah. Namun, realitas modern menunjukkan pergeseran paradigma yang signifikan. Pertanyaan “Apakah family office hanya untuk miliarder?” kini mulai mendapatkan jawaban yang lebih bernuansa, dan jawabannya cenderung ke arah “Tidak lagi”. Fenomena ini tidak hanya terjadi di kancah global, tetapi juga merasuk kuat ke dalam lanskap keuangan Indonesia.

Mari kita telaah lebih dalam. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan family office? Secara sederhana, family office adalah sebuah perusahaan swasta yang menyediakan layanan pengelolaan kekayaan komprehensif untuk satu keluarga kaya atau sekelompok keluarga yang terikat hubungan kekerabatan. Layanan ini mencakup spektrum yang luas, mulai dari manajemen investasi, perencanaan pajak, perencanaan waris, manajemen amal, hingga aspek-aspek gaya hidup seperti pengadaan seni, pendidikan anak, dan bahkan pengelolaan properti. Tujuannya adalah untuk mengelola aset keluarga secara efisien, memastikan keberlanjutan kekayaan antar generasi, serta memfasilitasi pencapaian tujuan finansial dan non-finansial keluarga.

Secara historis, konsep family office memang berakar dari kebutuhan para robber barons dan taipan di era industrialisasi Amerika Serikat, seperti keluarga Rockefeller. Mereka membutuhkan struktur yang kokoh untuk mengelola kerajaan bisnis dan aset pribadi mereka yang sangat besar, yang seringkali tersebar di berbagai negara dan industri. Kebutuhan akan kerahasiaan, efisiensi, dan konsolidasi pengelolaan menjadi pendorong utama kemunculannya. Seiring waktu, model ini diadopsi oleh keluarga-keluarga kaya lainnya, dan berkembang menjadi dua jenis utama: single-family office (SFO) yang melayani satu keluarga saja, dan multi-family office (MFO) yang melayani beberapa keluarga dengan mengonsolidasikan sumber daya.

Lalu, mengapa terjadi pergeseran pandangan mengenai siapa yang pantas atau mampu menggunakan layanan family office? Ada beberapa faktor kunci yang berperan.

Pertama, adalah definisi ulang tentang “kekayaan signifikan”. Di Indonesia, seperti di banyak negara berkembang lainnya, pertumbuhan ekonomi yang pesat telah melahirkan kelas pengusaha dan investor baru. Banyak dari mereka, meskipun belum mencapai status miliarder dalam dolar AS, telah mengumpulkan aset yang substansial. Kekayaan ini bisa berasal dari berbagai sumber: keuntungan bisnis keluarga yang terus berkembang, investasi properti yang sukses, imbal hasil dari portofolio saham yang dikelola dengan baik, atau bahkan warisan yang signifikan. Aset-aset ini, meskipun mungkin tidak mencapai puluhan atau ratusan triliun rupiah, sudah cukup kompleks untuk dikelola.

“Kekayaan bukanlah tentang seberapa banyak yang Anda miliki, tetapi tentang bagaimana Anda mengelolanya,” ujar seorang pengamat pasar modal ternama, yang menggarisbawahi pentingnya pengelolaan proaktif.

Ketika aset keluarga mulai mencapai tingkat tertentu – katakanlah, aset bersih yang dapat diinvestasikan mencapai puluhan hingga ratusan miliar rupiah – kompleksitas pengelolaan mulai muncul. Diversifikasi portofolio menjadi krusial untuk mitigasi risiko. Perencanaan pajak yang optimal menjadi penting untuk memaksimalkan imbal hasil bersih. Rencana suksesi dan waris menjadi kebutuhan mendesak untuk memastikan kelancaran transisi kekayaan. Di sinilah family office, dalam bentuknya yang lebih terjangkau atau terintegrasi, mulai terlihat relevan.

Kedua, adalah demokratisasi akses terhadap layanan profesional. Di masa lalu, layanan manajemen kekayaan yang sangat personal dan komprehensif seperti yang ditawarkan oleh family office hanya bisa diakses oleh segelintir orang karena tingginya biaya operasional, terutama untuk mendirikan dan menjalankan single-family office. Namun, kemunculan dan perkembangan multi-family office telah mengubah lanskap ini. MFO memungkinkan beberapa keluarga untuk berbagi biaya operasional, sumber daya, dan keahlian dari sebuah tim profesional. Ini membuat biaya masuk menjadi jauh lebih rendah dibandingkan membangun SFO sendiri.

“Prinsipnya sama dengan co-working space, tetapi ini untuk pengelolaan kekayaan,” jelas seorang konsultan keuangan senior. “Anda mendapatkan fasilitas, keahlian, dan jaringan tanpa harus menanggung seluruh beban biaya sendiri.”

Bagi keluarga yang belum memiliki kekayaan miliaran, MFO dapat menjadi solusi yang sangat efektif. Mereka bisa mendapatkan akses ke manajemen investasi yang profesional, nasihat pajak dan hukum, serta perencanaan keuangan terpadu, yang semuanya terbungkus dalam satu payung layanan. Ini memungkinkan mereka untuk fokus pada pengembangan bisnis atau karir mereka, sementara aset mereka dikelola oleh para ahli.

Ketiga, adalah perubahan dalam aspirasi dan kebutuhan generasi muda. Generasi milenial dan Gen Z yang semakin mendominasi lanskap pewaris kekayaan seringkali memiliki pandangan yang berbeda tentang uang dan investasi. Mereka cenderung lebih sadar akan isu-isu sosial dan lingkungan (socially responsible investing – SRI atau environmental, social, and governance – ESG), lebih terbuka terhadap aset alternatif seperti cryptocurrency atau private equity, dan lebih mengutamakan dampak serta tujuan jangka panjang ketimbang sekadar pertumbuhan modal semata. Mereka juga menginginkan pendekatan yang lebih transparan dan digital dalam pengelolaan aset mereka.

Family office modern, termasuk yang melayani klien dengan aset lebih rendah dari miliarder, mulai beradaptasi dengan kebutuhan ini. Mereka menawarkan portofolio yang lebih beragam, termasuk opsi investasi yang selaras dengan nilai-nilai ESG, serta platform digital untuk pelaporan dan komunikasi yang lebih mudah diakses.

“Generasi baru tidak hanya ingin kekayaan mereka tumbuh, tetapi juga ingin kekayaan itu mencerminkan siapa diri mereka dan apa yang mereka yakini,” kata seorang pakar impact investing.

Bagaimana dengan aturan di Indonesia? Peraturan di Indonesia mengenai family office masih dalam tahap perkembangan. Hingga saat ini, belum ada regulasi spesifik yang secara eksplisit mendefinisikan atau mengatur family office sebagai entitas terpisah seperti di beberapa yurisdiksi lain. Namun, praktik yang ada umumnya terintegrasi dengan peraturan yang berlaku untuk manajer investasi, penasihat keuangan, dan layanan keuangan lainnya.

Misalnya, pengelolaan investasi oleh family office tunduk pada peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait manajer investasi, reksa dana, dan pengelolaan dana nasabah. Perencanaan pajak akan mengikuti peraturan Direktorat Jenderal Pajak, termasuk Undang-Undang Pajak Penghasilan dan Pajak Pertambahan Nilai. Perencanaan waris dan aspek hukum terkait kepemilikan aset diatur oleh Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dan peraturan lain yang relevan.

Beberapa perusahaan di Indonesia memang telah mulai mengadopsi model family office, baik sebagai SFO internal untuk perusahaan besar, maupun sebagai MFO yang menawarkan layanan kepada publik. Perlu dicatat bahwa di beberapa negara, seperti Singapura, telah ada upaya untuk menyederhanakan regulasi bagi family office guna menarik lebih banyak modal. Peraturan terbaru di Singapura, misalnya, telah menetapkan ambang batas modal minimum yang lebih rendah untuk MFO tertentu, menjadikannya lebih mudah diakses. Di Indonesia, trennya adalah bagaimana regulator dapat memfasilitasi pertumbuhan industri ini tanpa mengorbankan perlindungan investor. OJK terus mengkaji bagaimana kerangka regulasi dapat mendukung pengembangan layanan pengelolaan aset yang komprehensif ini, sambil memastikan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip tata kelola yang baik dan perlindungan konsumen.

Oleh karena itu, bagi keluarga Indonesia yang merasa aset mereka telah mencapai kompleksitas tertentu, penting untuk tidak terpaku pada definisi kaku tentang “miliarder”. Yang lebih penting adalah menilai kebutuhan pengelolaan kekayaan mereka secara objektif.

Pertimbangkan beberapa indikator:

1. Nilai Aset Bruto: Jika total aset bruto keluarga (termasuk properti, investasi, deposito, dan aset likuid lainnya) telah mencapai angka yang signifikan, katakanlah mulai dari Rp 50 miliar hingga Rp 100 miliar ke atas, ini bisa menjadi titik awal untuk mempertimbangkan family office.

2. Keragaman Sumber Pendapatan dan Aset: Jika kekayaan keluarga berasal dari berbagai sumber (bisnis, investasi saham, properti, usaha sampingan), mengelolanya secara terpadu akan lebih efisien.

3. Jumlah Anggota Keluarga yang Terlibat: Semakin banyak anggota keluarga yang memiliki klaim atau kepentingan terhadap kekayaan tersebut, semakin kompleks pula kebutuhan koordinasi dan komunikasi.

4. Generasi Penerus: Jika ada rencana untuk meneruskan kekayaan kepada generasi berikutnya, perencanaan suksesi yang matang menjadi sangat vital. Ini mencakup bukan hanya transfer aset, tetapi juga edukasi finansial kepada pewaris.

5. Kebutuhan akan Kerahasiaan dan Keamanan: Bagi sebagian keluarga, menjaga kerahasiaan informasi keuangan dan aset adalah prioritas utama. Family office menawarkan tingkat kerahasiaan yang lebih tinggi dibandingkan institusi keuangan publik.

6. Kompleksitas Pajak dan Hukum: Jika keluarga memiliki aset di berbagai yurisdiksi atau struktur kepemilikan yang rumit, nasihat pajak dan hukum yang spesialis menjadi sangat penting.

7. Tujuan Kehidupan Jangka Panjang: Di luar tujuan finansial, keluarga mungkin memiliki tujuan lain seperti filantropi, pelestarian warisan budaya, atau mendukung inovasi. Family office dapat membantu mengintegrasikan tujuan-tujuan ini ke dalam strategi pengelolaan kekayaan.

“Jangan menunggu sampai Anda menjadi orang terkaya di dunia untuk mulai memikirkan pengelolaan kekayaan Anda. Mulailah dari sekarang, dengan skala yang sesuai dengan kondisi Anda,” nasihat seorang wealth strategist.

Bahkan jika sebuah keluarga belum siap untuk menyewa tim profesional penuh waktu untuk mendirikan SFO, ada opsi lain yang patut dipertimbangkan:

* Konsultan Keuangan Independen: Seorang konsultan keuangan yang memiliki lisensi dan rekam jejak yang baik dapat memberikan nasihat strategis dan membantu menyusun rencana pengelolaan kekayaan.

Wealth Management dari Bank: Banyak bank besar menawarkan layanan wealth management yang cukup komprehensif untuk klien dengan aset menengah ke atas. Meskipun tidak sekustom family office*, ini bisa menjadi langkah awal yang baik.

* Mencari MFO yang Spesialis: Ada MFO yang fokus pada segmen pasar tertentu, misalnya yang melayani keluarga dengan aset di kisaran miliaran rupiah, bukan puluhan triliun. Mereka biasanya memiliki struktur biaya yang lebih terjangkau.

Memanfaatkan Platform Digital: Teknologi finansial (fintech*) terus berkembang, menawarkan solusi yang memudahkan pengelolaan investasi dan pemantauan aset secara digital.

“Yang terpenting adalah proaktif. Kekayaan yang tidak dikelola dengan baik cenderung menyusut, bukan bertambah,” kata seorang ahli manajemen aset.

Di sisi lain, penting juga untuk memahami bahwa mendirikan atau menggunakan layanan family office datang dengan biaya. Baik itu biaya operasional single-family office yang mencakup gaji tim, sewa kantor, dan perangkat lunak, atau biaya manajemen yang dibebankan oleh multi-family office. Oleh karena itu, keputusan untuk menggunakan layanan family office harus didasarkan pada analisis biaya-manfaat yang cermat.

Pertanyaannya bukan hanya “apakah saya mampu?”, tetapi “apakah manfaat yang saya dapatkan sepadan dengan biayanya?”. Bagi keluarga yang asetnya sudah cukup kompleks dan pertumbuhannya terancam oleh pengelolaan yang tidak efisien, biayanya bisa jadi merupakan investasi yang sangat berharga.

Misalnya, sebuah keluarga memiliki portofolio saham senilai Rp 100 miliar. Dengan rata-rata imbal hasil pasar sebesar 10% per tahun, potensi keuntungan adalah Rp 10 miliar. Jika biaya pengelolaan family office adalah 1% per tahun (Rp 1 miliar), namun berkat pengelolaan yang lebih cerdas, strategi pajak yang optimal, dan mitigasi risiko yang lebih baik, imbal hasil bersih keluarga bisa meningkat menjadi 12% (Rp 12 miliar) atau bahkan menghindari kerugian besar di masa pasar yang bergejolak. Dalam skenario ini, biaya 1% tersebut terbayar lunas dan bahkan menghasilkan keuntungan tambahan.

“Pengelolaan kekayaan yang efektif adalah tentang mempertahankan dan menumbuhkan aset untuk generasi mendatang. Ini adalah maraton, bukan sprint,” ujar seorang financial planner berpengalaman.

Fleksibilitas model family office juga perlu ditekankan. Tidak semua family office harus memiliki struktur yang sama. Ada yang lebih fokus pada investasi, ada yang lebih pada aspek administratif dan hukum, dan ada yang menawarkan layanan holistik. Keluarga dapat memilih atau bahkan membentuk struktur yang paling sesuai dengan kebutuhan spesifik mereka.

Dalam konteks Indonesia, dengan pertumbuhan ekonomi yang dinamis dan semakin banyaknya individu yang berhasil membangun kekayaan, permintaan akan layanan pengelolaan aset yang lebih canggih dan personal akan terus meningkat. Family office, dalam berbagai bentuknya, diposisikan untuk memenuhi kebutuhan ini.

“Kita melihat sebuah pergeseran dari sekadar menabung dan berinvestasi konvensional menjadi pengelolaan kekayaan yang terintegrasi dan berorientasi pada tujuan jangka panjang keluarga,” kata seorang analis pasar keuangan.

Kesimpulannya, anggapan bahwa family office hanya untuk para miliarder adalah sebuah simplifikasi yang sudah tidak relevan lagi. Seiring dengan evolusi industri keuangan, peningkatan kompleksitas kekayaan, dan perubahan aspirasi generasi baru, family office semakin membuka pintunya bagi keluarga yang memiliki kekayaan signifikan namun belum mencapai tingkatan miliarder. Dengan berbagai pilihan model, mulai dari multi-family office yang berbagi biaya hingga konsultan independen, solusi pengelolaan aset yang komprehensif kini lebih terjangkau dan dapat diakses. Kuncinya adalah melakukan evaluasi diri terhadap kebutuhan pengelolaan kekayaan keluarga dan secara proaktif mencari solusi yang paling sesuai, bukan terjebak oleh definisi kaku tentang siapa yang “layak” untuk mendapatkan layanan ini.

~ David Cornelis Mokalu

Spread the love
Author:

Business Management Consultant with a penchant for Innovative Startups, Entrepreneurial SMEs, and Strategic Investment.

Subscribe to my newsletter! Get FREE RESOURCES to grow and expand your business

Loading